Analytic Jumlah Pengunjung

Buku Adalah Teman Kita

Jadikanlah buku sebagi teman kita sehari-hari. Dengannya, kita akan mendapatkan manfaat yang besar untuk hidup kita.

Membaca adalah Hobi

Jadikan membaca sebagai sebuah hobi. Maka kita akan mendapat pengetahuan-pengetahuan baru setiah hari.

Manifestasikan pikiran dengan menulis

Setelah membaca, akan ada ide-ide yang muncul dalam kognisi. Maka manifestasikanlah ide tersebut dengan sebuah tulisan. Jangan takut untuk menggoreskan pena pada secarik kertas.

Belajar

Selalu Belajar dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Raih Kesuksesan

Jangan pernah takut untuk bermimpi. Teruslah bermimpi dengan belajar dan berusaha. Maka kesuksesan akan menghampiri.

Senin, 21 Januari 2019

Ote Naus

Ote Naus
Oleh: Rosyid H. Dimas

Aku sudah tahu kalau kekalahan akan menimpa kubu kita sebelum kau mengasah parangmu untuk yang ketiga kalinya. Namun, aku tidak menyangka bahwa ternyata darah yang ada dalam telur itu adalah darahmu. Ternyata kaulah yang mewujud dari ritual ote naus itu dan menjadi korban dari peperangan ini. Dan ternyata kepalamulah yang akan dijadikan persembahan kepada usif Amanuban sebagai bukti atas kemenangan mereka.
Sehari sebelum kau mengasah parangmu itu, tepatnya sebelum peperangan dimulai, aku berhasil menyelinap ke dalam Benteng None. Saat itu para meo sedang bermusyawarah di lopo. Dengan ilmu yang kau ajarkan, aku mendekat ke lopo dengan menyamarkan suara dan gerak-gerikku. Aku sembunyi di balik atap rumbia ume kbubu yang hampir menyentuh tanah. Dari tempat persembunyianku itu, aku bisa mendengar pembicaraan mereka yang sedang menentukan dari arah manakah serangan kubu kita akan dimulai. Atas pengamatan yang mereka lakukan di pene, aku mendengar mereka bersepakat bahwa kita akan menyerang dari arah selatan, yaitu satu-satunya jalan untuk bisa menerobos benteng. Aku membenarkan kesepakatan mereka karena itulah jalan yang telah kita ambil, dan kita tidak mungkin bisa menyerbu benteng dari timur, barat, atau utara yang medannya berupa tebing bebatuan yang curam.
Setelah melakukan kesepakatan, menyiapakan siasat dan strategi perang, mereka turun dari lopo untuk melaksanakan ritual ote naus. Aku tidak perlu keluar dari tempat persembunyianku karena dari sana semua yang mereka laukakan teramat jelas di mataku meski beberapa helai julur atap rumbia menghalangi pandanganku. Di sebuah lopo yang ukurannya lebih kecil, seorang meo ditunjuk untuk memulai ritual. Aku melihat meo itu mengambil sebatang tongkat kayu, menempelkan salah satu ujungnya pada tiang lopo, kemudian mendepanya dengan kedua tangan. Ketika ujung kuku ibu jari meo itu menyentuh tiang lopo, mendadak perasaan was-was mulai menderaku. Seorang meo lain kemudian memberikan sebutir telur ayam dan sebatang arang kepada meo itu. Itulah ritual kedua yang akan mereka lakukan. Ia—meo yang telah mendepa tongkat—kemudian menggambar empat penjuru mata angin menyerupai anak panah pada cangkang telur itu. Dan setelah membaca doa-doa, telur itu lalu dipecahkan. Aku melihat noda darah keluar bersama putih dan kuning telur. Darah itu membuatku bergidik dan untuk beberapa saat tubuhku bergeming. Saat itulah aku tahu kalau kekalahan akan menimpa kita dan seorang atau lebih dari kubu kita akan menjadi bahan persembahan.
Setelah tersadar dari kegemingan, aku lalu menghambur keluar dari balik atap ume kbubu. Sial, aku hampir saja tertangkap karena ketakutan yang mencekam membuatku kehilangan konsentrasi untuk mempertahankan ilmuku. Seseorang melemparkan sebilah parang ke arahku, tapi aku berhasil mengelak. Aku pergi dari benteng None dengan langkah seribu.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan hasil ramalan yang telah mereka lakukan. Ujung kuku yang menyentuh tiang lopo dan noda darah yang keluar dari cangkang telur adalah pertanda buruk bagi kita. Kecemasan telah merambah di sekujur tubuhku hingga membuatku beberapa kali tersandung akar pohon dan bebatuan. Setelah tiba di persembunyian kita, kau menyambutku dengan senyum yang ramah. Kau memelukku dan beberapa kali menepuk-nepuk punggungku. Kau juga bertanya darimana aku dan mengapa kulitku terluka, tapi tidak kujawab sama sekali.
Saat itu kau sedang mengasah parangmu untuk yang ketiga kali. Kau ingin memastikan bahwa parang itu benar-benar tajam untuk memenggal leher mereka. Pada parangmu yang beberapa kali kaugesek dengan batu itu, aku seolah-olah melihat darah mengalir di matanya. Aku tidak tahu darah siapakah itu, tapi yang jelas bahwa itu adalah darah suku kita. Dan suara berdenging itu, yang timbul dari gesekan batu dan parangmu, aku mendengarnya seperti teriakan kekalahan yang memilukan. Mendadak tubuhku bergetar. Bayangan noda darah saat ritual ote naus itu terus menghantuiku dan membuatku tak mampu berbicara sama sekali. Aku tiba-tiba bisu.
Malam hari saat udara mendinginkan bebatuan, kau kembali memimpin kita untuk memeprsiapkan semuannya—strategi dan peralatan perang. Sementara kalian sibuk mengambil ini dan itu, aku hanya duduk di dekat perapian. Tiba-tiba aku membayangkan sebuah para-para yang di atasnya sebuah atau beberapa kepala manusia dipanggang dan cairan menetes-netes darinya. Sebenarnya, kau sudah tahu perihal ote naus yang mereka miliki. Namun, bagimu ramalan hanyalah ramalan. Sedangkan strategi yang baik selalu menjanjikan kemenangan. Kau sangat percaya dengan siasat perang yang pernah kaupelajari dari seorang serdadu Portugis itu hingga membuatmu lupa pada kepercayaan kita sendiri. Apalah artinya siasat dan strategi jika leluhur tidak berpihak kepada kita sama sekali? Aku ingin mengingatkanmu akan itu, tapi suaraku telah diambil oleh leluhur. Dan aku menyadari bahwa takdir memang harus berjalan sebagaimana yang telah digariskan.
Kita berangkat menuju Benteng None saat matahari mulai menghangatkan dedaunan. Tombak, parang, dan senapan telah siap menjalankan takdir dari leluhur. Sebagai pemimpin, kau berada di garis terdepan. Kau melangkah dengan penuh kepercayaan bahwa kemenangan akan dengan mudah kita tuai. Sementara itu, di belakangmu, aku berjalan dengan kaki yang gamang. Kita menelusuri pohon-pohon yang rindang dan bebatuan yang akan menjadi saksi atas peperangan ini. Kicau burung-burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon seperti suara genderang yang mengiringi perjalanan kita. Dan di sebuah tempat yang agak sepi dari julang pepohonan—aku mengira kalau tempat itu pastilah medan yang bertahun-tahun telah mereka gunakan untuk menyambut lawan—para meo telah menyambut dengan parang dan tombak yang siap membuncahkan darah kita.
Tidak menunggu waktu lama, kau lalu berseru untuk mulai menyerang. Kita melakukan tugas masing-masing sesuai siasat yang telah kautetapkan. Para meo itu, karena mereka tahu bahwa kita akan kalah, mereka menyambut serangan kita tanpa gentar sedikit pun. Parang saling beradu dan menimbulkan suara dentang yang menggema. Mata tombak berkilat-kilat mencari kulit untuk ditikam. Dan peluru-peluru senapan tumbuk dari kubu kita beterbangan mencari tubuh lawan.
Ada yang ganjil saat itu. Meski para penembak kita telah membidik sasaran dengan tepat, tapi tidak satu pun peluru yang mengenai mereka. Peluru-peluru itu seolah-olah kehilangan arah bidik dan terbang seperti burung buta. Kalian—termasuk kau—pasti berpikir itu karena bidikan yang meleset, tapi tidak bagiku. Berbeda dengan kau dan yang lain, aku berpikir bahwa itu adalah suatu keajaiban. Ada suatu kekuatan—yang tidak akan pernah bisa dicerna oleh kepala kita—yang telah membelokkan peluru-peluru itu dan menyelematkan para meo itu. Meski demikian, kita tetap berhasil membuat mereka tersudut dan mundur ke benteng.
Kau girang. Meski belum ada korban sama sekali, kau berpikir bahwa kemenangan sudah begitu dekat di matamu. Kita hanya perlu membunuh satu meo di antara mereka untuk mewujudkan kemenangan kubu kita. Ya, cukup satu korban. Tidak perlu sepuluh atau bahkan seratus. Karena itulah aturan perang yang sudah ditentukan leluhur untuk semua suku di tanah kita. Perang, meski akan menimbulkan korban, sejatinya harus tetap memiliki aturan untuk melindungi umat manusia.
Para meo terus mempertahankan benteng. Tak ada ketakutan sama sekali di mata mereka. Ya, pasti itu karena ote naus yang telah mereka lakukan. Bagaimanapun leluhur pasti akan membantu mereka. Dan benar saja. Saat kau berhasil menjatuhkan seorang meo lawanmu dan hendak menebasnya dengan parang, sebuah peluru meluncur dari bol nu’ut dan mengenai dadamu. Kau terjatuh. Meo itu kemudian bangkit dan hendak balik menebasmu. Saat ia akan mengayunkan parang, aku meloncat dan berusaha melindungimu. Namun, ia berhasil menendang perutku hingga aku terjatuh di bebatuan yang ditumbuhi kaktus berduri. Aku terhuyung dan kepalaku membentur batu. Sedangkan, entah berapa duri kaktus telah menembus dagingku. Meo itu akhirnya berhasil menetakkan parangnya di lehermu. Aku melihat kau berkelejatan menahan nyeri yang tak terperi. Saat melihat darahmu memburai tak tentu arah, saat itulah aku teringat kepada noda darah yang keluar bersama kuning dan putih telur pada ritual ote naus yang mereka lakukan. Ternyata darah yang kulihat saat itu, saat aku menyelinap ke Benteng None, adalah darahmu.
Sebab kau telah tumbang dan menjadi korban, peperangan pun berhenti. Kubu kita akhirnya mundur dengan bayangan kemenangan yang gugur. Para meo kemudian membawa kita berdua. Sebelum itu, mereka telah memenggal kepalamu terlebih dahulu untuk dijadikan persembahan.
Dan begitulah, aku sudah tahu kalau kekalahan akan menimpa kubu kita sebelum kau mengasah parangmu untuk yang ketiga kalinya. Di dalam benteng, para meo merayakan kemenangannya dengan menari mengelilingi kepalamu yang terpanggang di atas para-para sembari mengalunkan tne. Saat kepalamu telah kering, mereka akan membawanya kepada usif Amanabuan sebagai persembahan dan bukti kemenangan. Andai saja kuku jempol meo saat mendepa tongkat itu tidak menyentuh tiang pancongan lopo, andai saja tidak ada noda darah yang keluar dari telur itu, tentu kemenangan akan berpihak kepada kita dan kepalamu tidak akan dijadikan persembahan.
Sementara itu, di dalam kurungan kayu, sembari menghidu bau kepalamu yang terpanggang, aku hanya bisa meringkuk. Dan saat menyadari bahwa suaraku telah kembali, aku lalu menggonggong dan menyalak dengan lantang untuk mengenangmu.(*)

Keterangan:
Ote Naus = Ritual peramalan hasil perang
Usif = Raja
Meo = Prajurit perang
Lopo = Rumah bulat NTT yang agak terbuka, biasa dijadikan tempat musyawarah
Ume Kbubu = Rumah bulat NTT yang tertutup sebagai tempat tidur dan memasak
Pene =Tempat untuk melakukan pengamatan
Bol nu’ut = Lubang kecil pada pagar batu untuk meletakan senjata untuk menembak musuh
Tne = Sebuah syair