Sebelum membaca tulisan
ini, saya ingin menegaskan bahwa apa yang akan anda baca nanti bukanlah hibah
atau saudara-saudaranya yang bisa menghapus pahala anda seperti bara api yang
membakar kayu. Ini murni curhatan atau kegalauan-kegalauan saya. Jadi, harap
duduk manis, ambil napas dalam-dalam tiga kali agar tubuh anda rileks dan
jangan lupa sediakan secangkir kopi.
Perihal ibu, sejujurnya
dan sesungguhnya kehidupan saya dengan Ibu segalanya berjalan dengan biasa
sebagaimana adanya. Tidak ada hal-hal istimewa seperti beberapa orang yang
bahkan bisa romantis dengan ibunya. Ngobrol pun paling kalau ada perlu apa dan
apa. Tidak ada sesi curhat ataupun semacamnya. Tapi bukan berarti ibu saya
tidak memiliki kasih sayang kepada saya, atau sebaliknya, saya tidak memiliki
kasih sayang kepada ibu saya. Bukankah kasih sayang tidak melulu
dimanifestasikan dengan hal-hal romantis? Bukankah kasih sayang dapat
diwujudkan dengan hal-hal sederhana? Seperti menuruti kata-kata ibu atau
mengantarnya ke pasar, misalnya.
Jika diminta bercerita
tentang ibu, saya langsung teringat juga kepada mertua ibu (nenek saya). Anda penah
dengar mitos—entah ini mitos atau memang kenyataan—bahwa hubungan mertua dengan
memantu selalu tidak baik. Dan ini terjadi pada ibu saya dan mertuanya. (Sebelum
saya lanjutkan curhatan ini, saya ingin mengingatkan lagi kalau ini bukan
hibah, ini murni curhatan saya.) Ibu seringkali marah-marah kepada mertuanya. Kemarahan
ini bukan tanpa dasar, tapi memang tabiat mertua ibu (nenk saya) itu tidak seperti
orang tua sebagaimana umumnya. Bayangkan, ada nenek-nenek yang suka ngegosip,
membicarakan tetangga, suka membicarakan hal-hal yang belum tentu kebenarannya.
Awalnya ibu saya menasehati dengan baik—walaupun memang dengan nada agak
tinggi. Namun, mertuanya itu (nenek saya) selalu saja membantah, dan yang
menjengkelkan, ketika sudah terbukti ia (nenek saya) salah, justru nyelemor
(mengalihkan pembicaraan). Tentu setelah itu ibu marah. Pertengkaran ini hampir
saya temui setiap hari. Dan ternyata, selain ibu saya, kerabat-kerabat pun
sering menasehati (atau marah?) nenk saya itu. Dan saya, selalu berdoa, semoga
istri saya dan ibu saya nanti hubungannya baik. (Saya selalu ngeri dan takut
jika istri saya nanti memiliki hubungan semacam Tom & Jerry dengan ibu)
Nauzubillah....
Lalu bagaimana hubungan
saya dengan ibu? Seperti yang sudah saya katakan di awal, bahwa kehidupan kami—kehidupan
di keluarga kami—berjalan apa adanya. Bahkan hingga saya ke Jogja untuk kuliah,
semuanya pun berjalan sebagaimana biasa. Seperti bertukar kabar, mislanya, saya
jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menanyakan kabar kepada ibu saya atau
juga kepada orang-orang rumah. Begitupun ibu. Paling-paling ada telepon juga
pas ibu menanyakan “Uangmu masih?”. Dan saya, menelpon atau sms juga pas minta
uang kiriman. Dari persoalan uang ini, saya sadar betul bahwa ibu adalah orang
penyayang kepada anak-anaknya. Meski belum jatuh tempo tanggal kiriman, ibu
biasanya akan mengirim sms menanyakan keuangan saya. Dan kalau saya bilang
sudah habis, besoknya, ibu sudah mentransfer uang jarah bulanan itu, tanpa saya
meminta. Oleh karena itu, saya kadang timbul rasa sungkan sendiri. Bahkan, jika
di tengah bulan uang saya sudah habis, saya lebih memilih untuk hutang kepada
teman ketimbang bilang kepada ibu untuk minta kiriman. Kecuali kalau memang
saya sedang memiliki kebutuhan yang mendesak dan penting.
Selain soal peruangan,
manifestasi lain kasih sayang ibu kepada saya adalah melalui bekal. Ya, bekal. Ini
terjadi ketika saya pulang dan hendak kembali ke Jogja. Ibu selalu menanyakan
kepada saya mau bawa bekala apa saja. Saya biasanya hanya bilang bawa beras
beberapa kilo saja untuk berhemat makan. Tapi, tanpa sengetahuan saya, ibu
ternyata juga membawakan bermacam-macam makanan ringan dan kopi. Saya tidak
tahu kapan ibu membeli semua itu. Saya hanya tahu ketika pagi sebelum saya
berangkat, saya diminta mengikat kardus dengna tali rafia, dan ternyata di
dalamnya ada bermacam-macam bekal. Ketika saya bilang, “Kok banyak bu?”. Kata ibu,
“Ndak papa, buat ngemil di kos sama teman-temanmu.” Dan akhirnya, bekal ini
seperti menjadi syarat dan rutinitas acap kali saya hendak kembali ke Jogja.
Sekali lagi, kasih sayang seorang ibu, hadir melalui hal-hal sederhana.
Sebenarnya masih banyak
curhatan tentang ibu yang ingin saya tulis. Tapi, barangkali malah akan
menimbulkan kebosanan kepada anda. Dan baiklah, saya cukupkan saja sekian
curhatan—sekali lagi, bukan hibah—tentang ibu saya. Dan sebelum tulisna ini
berakhir, mari berdoa bersama semoga ibu kita diberikan rizki dan nikmat (baik
jasmaniah maupun ruhaniah) oleh Tuhan yang kasih dan penyayang. Aamin.
NB: Tulisan ini dibuat
dalam rangka memeriahkan ulang tahun akbaryoga.com sekaligus untuk memperingati
hari ibu.








Makasih ya udah ikutan. :D
BalasHapusDuh, jangan sampai kurang harmonis gitu hubungan ibu sama mertua ibumu, ya. Semoga akur. Aamiin.
Asli, malu banget pasti kalo di pertengahan bulan duitnya abis. :( Ya, mending minjem temen dulu atau puasa Senin-Kamis. :))
pengeluaran sgp
BalasHapuspengeluaran hk
togel singapore