Senin, 02 Januari 2017

Curhatan Tentang Ibu




   Sebelum membaca tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa apa yang akan anda baca nanti bukanlah hibah atau saudara-saudaranya yang bisa menghapus pahala anda seperti bara api yang membakar kayu. Ini murni curhatan atau kegalauan-kegalauan saya. Jadi, harap duduk manis, ambil napas dalam-dalam tiga kali agar tubuh anda rileks dan jangan lupa sediakan secangkir kopi.

   Perihal ibu, sejujurnya dan sesungguhnya kehidupan saya dengan Ibu segalanya berjalan dengan biasa sebagaimana adanya. Tidak ada hal-hal istimewa seperti beberapa orang yang bahkan bisa romantis dengan ibunya. Ngobrol pun paling kalau ada perlu apa dan apa. Tidak ada sesi curhat ataupun semacamnya. Tapi bukan berarti ibu saya tidak memiliki kasih sayang kepada saya, atau sebaliknya, saya tidak memiliki kasih sayang kepada ibu saya. Bukankah kasih sayang tidak melulu dimanifestasikan dengan hal-hal romantis? Bukankah kasih sayang dapat diwujudkan dengan hal-hal sederhana? Seperti menuruti kata-kata ibu atau mengantarnya ke pasar, misalnya.

   Jika diminta bercerita tentang ibu, saya langsung teringat juga kepada mertua ibu (nenek saya). Anda penah dengar mitos—entah ini mitos atau memang kenyataan—bahwa hubungan mertua dengan memantu selalu tidak baik. Dan ini terjadi pada ibu saya dan mertuanya. (Sebelum saya lanjutkan curhatan ini, saya ingin mengingatkan lagi kalau ini bukan hibah, ini murni curhatan saya.) Ibu seringkali marah-marah kepada mertuanya. Kemarahan ini bukan tanpa dasar, tapi memang tabiat mertua ibu (nenk saya) itu tidak seperti orang tua sebagaimana umumnya. Bayangkan, ada nenek-nenek yang suka ngegosip, membicarakan tetangga, suka membicarakan hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Awalnya ibu saya menasehati dengan baik—walaupun memang dengan nada agak tinggi. Namun, mertuanya itu (nenek saya) selalu saja membantah, dan yang menjengkelkan, ketika sudah terbukti ia (nenek saya) salah, justru nyelemor (mengalihkan pembicaraan). Tentu setelah itu ibu marah. Pertengkaran ini hampir saya temui setiap hari. Dan ternyata, selain ibu saya, kerabat-kerabat pun sering menasehati (atau marah?) nenk saya itu. Dan saya, selalu berdoa, semoga istri saya dan ibu saya nanti hubungannya baik. (Saya selalu ngeri dan takut jika istri saya nanti memiliki hubungan semacam Tom & Jerry dengan ibu) Nauzubillah....

   Lalu bagaimana hubungan saya dengan ibu? Seperti yang sudah saya katakan di awal, bahwa kehidupan kami—kehidupan di keluarga kami—berjalan apa adanya. Bahkan hingga saya ke Jogja untuk kuliah, semuanya pun berjalan sebagaimana biasa. Seperti bertukar kabar, mislanya, saya jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menanyakan kabar kepada ibu saya atau juga kepada orang-orang rumah. Begitupun ibu. Paling-paling ada telepon juga pas ibu menanyakan “Uangmu masih?”. Dan saya, menelpon atau sms juga pas minta uang kiriman. Dari persoalan uang ini, saya sadar betul bahwa ibu adalah orang penyayang kepada anak-anaknya. Meski belum jatuh tempo tanggal kiriman, ibu biasanya akan mengirim sms menanyakan keuangan saya. Dan kalau saya bilang sudah habis, besoknya, ibu sudah mentransfer uang jarah bulanan itu, tanpa saya meminta. Oleh karena itu, saya kadang timbul rasa sungkan sendiri. Bahkan, jika di tengah bulan uang saya sudah habis, saya lebih memilih untuk hutang kepada teman ketimbang bilang kepada ibu untuk minta kiriman. Kecuali kalau memang saya sedang memiliki kebutuhan yang mendesak dan penting.

   Selain soal peruangan, manifestasi lain kasih sayang ibu kepada saya adalah melalui bekal. Ya, bekal. Ini terjadi ketika saya pulang dan hendak kembali ke Jogja. Ibu selalu menanyakan kepada saya mau bawa bekala apa saja. Saya biasanya hanya bilang bawa beras beberapa kilo saja untuk berhemat makan. Tapi, tanpa sengetahuan saya, ibu ternyata juga membawakan bermacam-macam makanan ringan dan kopi. Saya tidak tahu kapan ibu membeli semua itu. Saya hanya tahu ketika pagi sebelum saya berangkat, saya diminta mengikat kardus dengna tali rafia, dan ternyata di dalamnya ada bermacam-macam bekal. Ketika saya bilang, “Kok banyak bu?”. Kata ibu, “Ndak papa, buat ngemil di kos sama teman-temanmu.” Dan akhirnya, bekal ini seperti menjadi syarat dan rutinitas acap kali saya hendak kembali ke Jogja. Sekali lagi, kasih sayang seorang ibu, hadir melalui hal-hal sederhana.

   Sebenarnya masih banyak curhatan tentang ibu yang ingin saya tulis. Tapi, barangkali malah akan menimbulkan kebosanan kepada anda. Dan baiklah, saya cukupkan saja sekian curhatan—sekali lagi, bukan hibah—tentang ibu saya. Dan sebelum tulisna ini berakhir, mari berdoa bersama semoga ibu kita diberikan rizki dan nikmat (baik jasmaniah maupun ruhaniah) oleh Tuhan yang kasih dan penyayang. Aamin.


NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memeriahkan ulang tahun akbaryoga.com sekaligus untuk memperingati hari ibu.

1 komentar:

  1. Makasih ya udah ikutan. :D

    Duh, jangan sampai kurang harmonis gitu hubungan ibu sama mertua ibumu, ya. Semoga akur. Aamiin.

    Asli, malu banget pasti kalo di pertengahan bulan duitnya abis. :( Ya, mending minjem temen dulu atau puasa Senin-Kamis. :))

    BalasHapus