Rabu, 17 Agustus 2016

Menanam Warisan



Menanam Warisan
Oleh : Ahmad Rosyid Mustaghfirin

Setelah rambu solo1 untuk Indo2 setahun lalu, keuangan kami semakin memburuk. Sebagai keturunan tokapua3, penyempurnaan kematian Indo harus diupacarakan dengan besar-besaran. Begitulah aluk4 yang sudah ditentukan oleh leluhur. Setidaknya tiga puluh ekor kerbau—5 ekor kerbau belang dan 25 ekor kerbau biasa—dan seratus babi harus kami persembahkan untuk mengantar Indo ke puya5, menemui Puang Matua6. Tentu saja hasil panen kopi Ambe7 tak mampu memenuhi semua kebutuhan itu mengingat harga kopi kian hari semakin menurun. Pun demikian pula para kerabat Ambe. Pekerjaan meraka sebagai petani kopi seperti Ambe semakin tak menghasilkan rupiah. Akhirnya Ambe harus menjual tiga hektar dari kebun kopinya agar bisa mengupacarakan Indo dengan sempurna.
Bukan hanya keluarga kami yang sedang susah finansial. Para warga desa yang kebanyakan bekerja sebagai petani kopi seperti Ambe juga mulai resah. Harga kopi yang tak kunjung membaik membuat mereka beralih menjadi petani sayur. Pohon-pohon kopi yang umurnya sudah puluhan tahun—bahkan ada yang ratusan tahun—mereka tebang; dan diganti dengan tanaman sawi, kol, bawang merah, bawang putih, wortel, kentang, dan serupanya. Namun tidak demikian dengan Ambe. Sisa kebun kopi yang tak lebih dari setengah hektar tetap ia pertahankan. Dengan tubuhnya yang kian renta, ia masih setia merawat pohon-pohon kopi warisan leluhur, yang sudah ratusan tahun umurnya kendati nasib harga kopi kian tak jelas.
“Mungkin sekarang saatnya kita beralih menjadi petani sayur seperti warga yang lain, Ambe,” aku berusaha membujuk Ambe ketika kami tengah membersihkan pohon kopi dari pucuk-pucuk batang yang tak berguna. Tangan keriputnya begitu lihai memilah pucuk-pucuk batang itu. Kata Ambe, pucuk batang itu bisa mengganggu biji-biji kopi untuk mendapat gizi yang baik. “Hidup kita semakin miris.”
“Aku tidak tertarik menjadi petani sayur, Toding.”
“Lihatlah, Ambe. Kondisi mereka sekarang lebih baik. Banyak tengkulak yang membeli sayur-sayur mereka dengan harga lumayan. Sedangkan harga kopi tetap begitu-begitu saja. Jika begini terus, kita mau makan apa, Ambe?”
“Ini bukan soal perut.”
“Lalu?”
“Bertani kopi adalah pekerjaan turun temurun dari leluhur, Toding. Leluhur tahu kalau tanah ini bisa menghasilkan biji-biji kopi yang baik. Makanya mereka menanami lahan-lahan di gunung ini dengan kopi. Kau tentu tahu kopi kita. Aroma dan rasanya lekat dengan tanah kita ini. Tak ada kopi dari tempat mana pun yang menyamai kopi kita. Karena itulah kopi-kopi dari tanah kita ini dikenal orang-orang di dunia.”
“Aku tahu, Ambe. Tapi, sekarang kita sudah tidak bisa lagi menggantungkan hidup pada kopi. Harganya murah. Di sini, kopi kita dibeli dengan sedikit recehan. Kemudian, di luar sana, kopi kita dijual dengan harga berlipat-lipat.”
“Bagiku bertani kopi sudah seperti alu, karena ini diwariskan leluhur. Aku akan tetap memegangnya. Dan seharusnya kita menjaga apa yang sudah diturunkan. Lagi pula jika tak ada yang tetap bertani kopi, bisa-bisa kopi kita yang terkenal ke mancanegara ini hanya tinggal nama saja.”
Jika sudah berbicara alu, Ambe akan mempertahankan dengan teguh apa yang diyakininya. Ambe memang salah satu tetua di desa ini. Wajar jika ia teguh dengan pendirian dan pilihannya. Apa lagi hal yang dipilihnya itu masih berkaitan dengan alu dan leluhur. Siapa pun tak akan bisa  menggoyahkannya.
Satu hal yang membuatku bangga dengan Ambe, meski ia sebagai salah satu tetua adat yang dipercaya ucapannya, ia tak pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Seperti sekarang ini, keyakinan Ambe bahwa bertani kopi adalah warisan leluhur tidak pernah ia paksakan kepada warga desa. Ambe mempersilakan para warga dengan pilihan beralih menjadi petani sayur. Namun, kata Ambe, setidaknya harus ada satu orang yang tetap mempertahankan apa yang sudah ada. Dan orang itu adalah Ambe.
                                                                               ***
Keuangan keluarga kami tak kunjung membaik. Harga kopi bahkan semakin murah, tujuh ribu rupah perkilogram. Setiap hari perutku dan Ambe hanya terisi nasi putih dan dedaunan dari hutan. Memakan daging hanya ketika aku beruntung dalam berburu atau ketika ada upacara adat yang dilakukan tetangga.
Dulu keluarga kami memang bisa dibilang kaya. Ambe dan Indo sama-sama dari  keturunan tokapua. Kebun kopinya berhetar-hektar. Namun, seiring berjalannya masa, seiring perjalan harga kopi, seiring upacara rambu solo yang telah diadakan, keluarga kami tak bisa dikatakan kaya lagi. Harta simpanan sudah menipis. Namun, gelar tokapua tetap kami sandang. Gelar yang nantinya akan menyusahkan diriku dan keturunanku. Aku berani mengatakan “menyusahkan” karena rambu solo yang dilakukan nanti harus tetap besar. Bayangkan, jika Ambe meninggal nanti, aku harus mempersembahkan puluhan ekor kerbau dan seratus babi sebagi tunggangan Ambe ke puya. Dengan kondisi seperti sekarang, semua orang pasti bisa menebak aku tak akan mampu membiayai semua itu.
Jalan satu-satunya yang bisa kulakukan adalah mengganti kebun kopi Ambe dengan sayuran. Maka, ketika tubuh Ambe sudah tak kuasa lagi untuk pergi ke kebun kopi yang letaknya jauh dari tongkonan8 kami, diam-diam setengah dari pohon kopi Ambe yang sudah berumur ratusan tahun kutebang dan kuganti dengan bawang merah. Aku tertarik dengan hasil panen bawang merah Paman Marten yang menghasilkan puluhan juta rupiah.
Hasil dari bawang merah yang kutanam di kebun Ambe sedikit memperbaiki keuangan keluarga. Namun hal yang tak kusangka-sangka terjadi. Tiba-tiba saja Ambe ingin menengok kebun kopinya. Aku berusaha merayu Ambe agar ia tak usah pergi ke kebun. Aku tak ingin ia tahu di tanah kebunnya sekarang tumbuh bawang merah. Namun kemauan Ambe tak bisa kuredam. Dengan terpaksa kuantar Ambe menuju kebun, menyusuri setapak yang miring. Ambe berjalan di depanku. Langkahnya sedikit terlunta karena usia. Di belakang Ambe, ketakutan sudah mencekik tenggorokanku. Wajahku mulai pucat dan ditumbuhi air peluh. Sesekali kakiku bergetar—seperti getar yang timbul di kaki Ambe ketika berjalan.
Aku dan Ambe tiba di kebun. Ambe masih belum tahu perihal ulahku. Di depan—tepat berhadapan dengan jalan setapak yang masuk ke kebun—pohon kopi Ambe masih terlihat berjajar dan rimbun. Aku sengaja menanam bawang merah di bagian yang lain—aku dan Ambe sering menyebutnya bagian belakang. Ambe terus berjalan masuk ke dalam kebun. Langkahnya hati-hati memijak tanah kebun yang miring. Sesekali kucuba mengalihkan tujuannya ke sisi lain, berusaha agar ia tak mengetahui kebunnya yang telah kurusak. Namun usahaku sia-sia belaka. Ambe terus berjalan ke dalam. Dan tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia tercenung melihat pemandangan di depan matanya. Dada dan kepalaku sudah tak keruan menahan ketakutan. Tentu kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Ya, Ambe tahu setengah dari kebun kopinya kutebang dan kuganti bawang merah. Ambe merah besar kepadaku.
“Mengertilah, Ambe. Hasil kopi tak bisa memperbaiki keuangan kita. Dan daging yang kita makan kemarin adalah hasil dari bawang merah yang kutanam ini.”
“Jika aku tahu bahwa daging itu dari hasil tanamanmu ini, aku tak akan memakannya!”
“Aku melakukan ini demi kita, Ambe.”
“Kau keterlaluan, Toding! Sudah kukatakan padamu bahwa kopi dan pekerjaan ini warisan leluhur. Ini termasuk alu kita. Semua orang sudah tidak ada lagi yang bertani kopi. Sudah tidak ada yang memegang warisan ini. Hanya tinggal aku, Ambemu, yang masih memegang pekerjaan ini. Dan aku berharap kau meneruskan pekerjaan ini dariku. Tapi kau malah menghancurkan semuanya. Lihat, karena ulahmu sisa pohon kopi yang berumur ratusan tahun ini hanya tinggal hitungan jari saja!” Ambe benar-benar marah kepadaku. Matanya berkilat-kilat. Raut mukanya menyungging berang yang menjadi-jadi.
“Aku tak peduli lagi dengan alu, Ambe. Adat telah membuat kita menjadi seperti ini. Jika tidak ada rambu solo yang menghabiskan banyak biaya itu, tentu hidup kita masih enak seperti dulu. Dan kau harus tahu, Ambe,  hasil kopi tak akan cukup untuk rambu solomu saat kau meninggal nanti.”
Mata Ambe terbelalak. Ia seakan tak percaya mendengar ucapanku. Tubuh Ambe bergetar, kemudian duduk tersimpuh di tanah, di batas antara pohon kopi dan bawang merah. Kulihat kedua matanya mulai mencucurkan air mata. Baru kali ini kulihat Ambe menangis. Dari tubuhku yang masih kanak-kanak dulu hingga sebesar ini, aku tak pernah melihat Ambe seperti ini.
“Maafkan aku, Ambe.” Kudekap tubuh Ambe. Tubuhnya yang ringkih membuat badanku bisa merasakan tulang belulang yang tercetak jelas di kulit keriputnya.
“Kau keterlaluan, Toding,” Ambe berusaha menyusun kata-kata di sela-sela air matanya yang masih bercucuran. “Tidak kusangka kau setega ini kepada Ambemu sendiri.”
“Maafkan aku, Ambe. Maafkan anakmu ini.” Air mataku berjatuhan menyusul air mata Ambe.
“Hanya kau harapanku, Toding. Tapi kau malah...,” Ambe kembali menangis. Aku berusaha memeluknya semakin erat berharap ia mau memaafkanku. “Sudah tidak ada kebun kopi di desa ini selain kebun kopi kita. Semua warga sudah beralih bertani sayur. Jika tidak ada yang bertani kopi, aku khawatir anak-cucu kita tak bisa merasakan nikmat kopi tanah kita ini. Dan kelak kopi kita akan tinggal nama saja. Itulah alasanku masih menekuni pekerjaan ini selain karena bertani kopi adalah pekerjaan turun temurun leluhur kita. Dan dengarkan aku baik-baik, Toding! Jangan sekali-kali kaumenyalahkan adat! Leluhur menciptakan adat ini demi kebaikan keturunannya. Kau harus ingat di mana kau tinggal, dari mana kau berasal. Adat di tanah ini adalah keyakinan kita. Kau harus memegang dan menjaganya agar keturunan kita kelak tahu asal-usul dan jati diri mereka sendiri.”
 Tak kusangka Ambe berpikir sejauh itu. Kukira apa yang menjadi pilihan Ambe adalah karena kekolotan pikirannya. Ternyata perkiraanku salah besar. Ambe melakukan semua ini demi anak-cucu di masa depan kelak.
“Dengar, Toding! Aku tahu keadaan kita sekarang. Dan aku tak mengapa jika sepeninggalku nanti kau tak segera mengupacarakanku. Yang penting lidahku masih bisa merasakan nikmat kopi tanah kita ini sembari menunggu sampai kau punya cukup biaya untuk mengadakan rambu soloku.” Itu kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Ambe di sela kemarahannya padaku. Setelah itu, ia diam terpekur menikmati air matanya sendiri.
Sesudah kemarahannya redam, Ambe bangkit dan segera beranjak pulang. Aku mengekor di belakangnya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutku dalam perjalanan pulang ke tongkonan. Begitu pula dengan Ambe. Ia seakan telah menalan semua kata-kata jauh di dasar perutnya agar tak keluar sehuruf pun. Namun, sesekali telingaku menangkap jelas sisa-sisa suara tangisan Ambe.
***
Kicau burung-burung hutan menandai pagi hari di tanah kelahiranku ini. Kabut-kabut tipis hinggap di atas tongkonan dan pepohonan yang rimbun. Setelah perdebatanku dengan Ambe kemarin, baru kusadari bahwa ada yang telah lama hilang dari desa ini. Aroma harum biji-biji kopi yang biasanya disangrai dan ditumbuk warga di pagi hari tak lagi bertengger di hidungku. Padahal, dulu, aroma seperti itu akan memenuhi sudut-sudut tanah ini saban pagi. Benar apa yang dikatakan Ambe. Seseorang harus tetap mempertahankan apa yang sudah diturunkan leluhur, bertani kopi.
Pagi ini aku berniat untuk menyemai bibit kopi. Bibit itu akan kutanam kembali di kebun Ambe yang telah kurusak. Aku pergi ke bilik Ambe. Aku ingin meminta doa kepadanya agar leluhur memberkati pekerjaanku.  Kuketuk pintu biliknya. Tak ada jawaban. Mungkin ia masih terlelap. Kubuka pintu biliknya—pintunya tak pernah dikunci. Kulihat Ambe masih tertidur di atas tilamnya. Namun ada yang ganjil. Tak ada gerakan kembang-kempis yang menandakan pernapasannya. Segera kugoyang-goyangkan tubuh ringkih Ambe. Tapi ia tetap tidur. Tak bergerak. Tak bernapas. Spontan, air mataku bercucuran, menderas. Kudekap tubuh Ambe. Mulutku mengeluarkan teriakan serupa lolongan: Ambeeee!!
Para tetangga dan kerabat dekat segera berhambur ke tongkonan kami. Kukira mereka pasti tahu apa yang sedang terjadi. Usia Ambe yang sudah sangat tua dan tubuhnya yang sering sakit-sakitan, semua orang pasti bisa menebak-nebak bahwa umur Ambe tak lama lagi. Dan pagi ini, Ambe benar-benar menyudahi umurnya. Aku dan para kerabat segera mengurus mayat Ambe.
Setelah mayat Ambe selesai diurus dan ditidurkan di biliknya, aku dan para kerabat segera melakukan rapat. Ya, rapat perihal rambu solo untuk Ambe. Mengingat keuanganku dan masing-masing kerabat yang masih simpang-siur, kami sepakat menunggu hingga memiliki cukup biaya untuk mengupacarakan Ambe.
Pagi ini aku hendak melaksanakan niatanku—menyemai bibit kopi—yang sempat tertunda sebab kematian Ambe kemarin. Sebelum mencari bakal bibit yang tumbuh liar di kebun, aku menengok Ambe yang sedang tebujur di biliknya. Kubawakan deppa tori9 dan secangkir kopi dari biji di kebun untuk sarapan Ambe. Tak lupa kubawakan pula sirih untuk Ambe menginang. Bagi kami, suku Toraja, seorang yang sudah meninggal dianggap masih sakit sampai diadakan upacara rambu solo untuknya. Dan selama itu pula, mayat orang itu akan diperlakukan selayaknya manusia yang masih hidup: diberi makan-minum dan diajak bercakap-cakap.
Kuletakkan deppa tori, kopi, dan sirih di sisi Ambe. Kuambil secangkir kopi yang sudah kusediakan untukku sendiri. Aroma sedap segera memasuki lubang hidungku dan memenuhi bilik Ambe.
“Maafkan aku karena tak bisa segera mengupacarakanmu, Ambe. Kau pasti mengerti keadaanku. Semoga Indo sabar menunggumu di puya,” tak kusadari dua belah mataku mulai mengalirkan air hangat. “Hari ini aku hendak menyemai bibit kopi. Akan kuperbaiki kebunmu yang sudah kurasak. Doakanlah anakmu ini, Ambe. Semoga leluhur memberkatiku dan segera bisa mengadakan rambu solo untukmu. Dan sembari menunggu upacaramu itu, Ambe, mari kita nikmati kopi tanah kelahiran kita ini.”
Kusesap secangkir kopi hitam yang masih mengpulkan asap di tanganku. Kupandang tubuh Ambe yang terbujur; Sepertinya ia menikmati kopinya pagi ini.(*)

Rembang, 17 Agustus 2016

Keterangan:
Cerpen ini meminjam latar dan adat Toraja. Serta terinspirasi dari Puya Ke Puya karya Faisal Oddang.
1.    Rambu solo       = Upacara kematian suku Toraja.
2.    Indo                   = Ibu
3.    Tokapua            = Bangsawan tinggi
4.    Aluk                  = Adat
5.    Puya                  = Tempat peristirahatan trakhir untuk roh /  surga
6.    Puang Matua     = Tuhan
7.    Ambe                = Ayah
8.    Tongkonan        = Rumah adat suku Toraja
9.  Deppa tori            = Kue tori, cemilan khas Toraja



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

0 komentar:

Posting Komentar