Sabtu, 23 April 2016

Jiwa Kesatria Yang Mati

"Bagaimana mungkin seorang putra Resi Suwandagni bisa berperilaku semacam itu?" tanya Bilung keheranan.
"Namanya juga manusia, Lung. Ada tiga hal yang mampu menjebak manusia hingga berperilaku layaknya hewan: harta, tahta, dan wanita. Dan Raden Sumantri telah jatuh pada lubang itu." Jawab Togog.
Sumantri terduduk lesu. Air matanya menderas, membasahi busur panahnya.
"Kau lihat, Lung? Sifat tamak dan malu Raden Sumantri telah membinasakan adiknya sendiri, Raden Sukrasana. Hanya karena rasa malu atas wajah adiknya yang buruk dan bertubuh kerdil menyerupai bangsa rasaksa, ia tega melesatkan cakrabaskara kepada Raden Sukrasana."
"Benar, Kang. Padahal Raden Sukrasana telah membantunya, meminta izin kepada Pukulun Wisnu untuk memindahkan taman Sriwedari ke keputren Maespati."
"Sifat kesatria Raden Sumantri sudah hilang semenjak kepulangannya membawa Raden Ayu Citrawati dari Magada. Ia sudah hianat pada Prabu Arjuna Sasrabahu.”
Tiba-tiba sebuah suara menyeruak dari atas langit.
“Aku tidak marah padamu, Kang. Aku tetap setia padamu. Kelak aku baru akan menghadap Tuhan bersama Kakang Sumantri saat terjadi perang besar antara negara Alengka dan Maespati.”
“Maafkan aku Sukrasana!!” Teriakan Sumantri menggetarkan Maespati.
“Kau dengar itu, Lung? Suatu saat nanti, Raden Sumantri akan menyadari perbuatannya.”
“Kapan, Kang?”
“Saat Maespati berperang melawan Alengka. Saat ia berhadapan dengan Prabu Rahwana.” Tutur Togog dengan tegas.

0 komentar:

Posting Komentar