(sumber gambar: google.com)
Kau
tahu, Milla? Aku masih senang menikmati senja di resto kecil ini. Meski rambut
dan kulitku tak lagi muda. Dan tentu saja, masih seperti dulu, ditemani kue tiramisu
kesukaanmu.
Aku
bertemu denganmu di resto ini saat masih kuliah. Sore itu kau datang. Kau duduk
di kursi mejaku. Sore itu, resto ini begitu ramai. Dan tinggal satu kursi yang
masih kosong. Kursi di mejaku. Kau duduk di kursi itu berhadap-hadapan
denganku.
“Milla.”
Kau tiba-tiba menyebutkan namamu.
“Rian.”
“Kau
sering ke resto ini?”
Kujawab
tanyamu itu dengan senyum dan sedikit kata, “Menikmati senja dengan secangkir
kopi.”
Kau
tertawa.
“Hanya
kopi?” Kau menyodorkan piringmu kepadaku. “Cobalah!”
Aku
mengernyitkan dahi.
“Kau
tidak tahu kue ini? Kau tidak pernah mencicipinya?”
Aku
menggeleng. Lagi, kau tertawa. Sungguh, tawamu indah sekali.
“Misu.
Tiramisu. Ini kue kesukaanku. Aku senang menyebutnya misu. Lebih singkat
dan lucu.” Kau melukis senyum di pematang bibirmu.
Aku
memang tidak pernah membeli kue semacam ini. Bahkan ia ada di resto yang kukunjungi
saban sore ini, aku tidak tahu. Kuambil potongan kecil sisa potonganmu.
Rasanya aneh. Mungkin lidahku belum akrab dengan kue ini. Jujur, lidahku lebih
akrab dengan kue lapis manis buatan ibuku.
Semenjak
pertemuan itu, kita sering bertemu di resto ini setiap sore. Kau memesan dua tiramisu,
untukku dan untukmu. Aku mulai akrab denganmu. Seperti lidahku akrab dengan misu.
Keakraban itu berubah menjadi sepi ketika sore itu, kau pamit padaku untuk
pindah ke luar negeri. Bahkan sebelum aku mengutarakan perasaanku kepadamu. Aku
mencintaimu.
Milla,
aku tidak tahu sudah berapa lama kita tak bertemu. Usia membuatku susah untuk
mengingat waktu. Kue ini, misu, masih setia mengakrabiku. Meski kau tak
lagi ada untuk bertukar akrab denganku. Kau tahu, Milla? Kue ini seperti
kenanganku tentangmu, bertumpuk dan berlipat. Dan kau tahu? Aku masih sendiri.
Karena aku setia dengan kenanganku. Karena aku setia dengan kue kesukaanmu,
misu.












