YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU INTANSHURULLAAHA
YANSHURKUM WAYUTSABBIT AQDAAMAKUM (QS. Muhammad : 7)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)
Inilah salah satu ayat yang menggamabarkan
bagaimana ketika seseorang menolong orang lain dengan ikhlas karena Allah akan
dibalas dengan pertolongan dari Allah. Kebaikan yang kita berikan kepada orang
lain, maka Allah akan membelas kebaikan itu dengan kebaikan yang lebih.
Pada suatu pengajian rutin disebuah majelis
ta’lim, ketika pembicara memberikan sesi tanya jawab atau curhat, ada sebuah
cerita curhatan dari seorang bapak-bapak yang membuat saya dan para jama’ah memanjangkan
mata kepadanya dan membuat seluruh jama’ah terdiam memasang telinga. Bapak itu
adalah seorang tukang becak yang bercerita tentang kejadian yang dialaminya
ketika pulang dari pengajian minggu lalu.
“Ketika beliau pulang dari pengajian, dengan
menggenjot becaknya ia bermaksud untuk pergi ke toko kelontong untuk membeli
susu untuk anaknya di rumah. Namun, sebelum ia sampai di toko, di sebuah
perempatan yang tidak jauh dari toko tujuannya, tepat di depannya terjadi
kecelakaan tabrak lari antara mobil pickup menabrak seorang pengendara motor.
Orang yang menabrak langsung lari dengan mobil pickupnya. Bapak itu terkaget
dan langsung turun dari becaknya meneriaki si penabrak. Dan begitu juga
orang-orang di sekitar jalan itu. Tapi sang penabrak sudah jauh kencang dengan
mobilnya. Korbannya seorang laki-laki seumuran beliau. Kepala korban sudah
berdarah dan dalam keadaan pingsan. Kemudian beliau segera memberhentikan salah
satu angkutan umum untuk membawa korban ke rumah sakit. Becaknya ditinggal di
tempat kejadian perkara.
Setelah belaiau selesai membantu korban dari
rumah sakit, beliau kembali untuk mengambil becaknya. Ia mengambil uang
dikantongnya, hanya ada sisa sepuluh ribu. Sedangkan harga susu yang ingin
beliau beli adalah empat puluh lima ribu. Sebelumnya uang yang ada disaku
beliau adalah lima puluh ribu, tapi empat puluh ribu telah beliau gunakan untuk
biaya transportasi menolong korban kecelakaan tadi. Beliau langsung menaiki
becaknya untuk beranjak pulang. Dalam hatinya masih terpikirkan susu untuk
anaknya. Tapi beliau ingat ceramah yang disampaikan pada pengajian yang baru
saja diikuti tadi, “intanshurullaaha yanshurkum” Ya, sang penceramah
menyampaikan juka kita menolong karena Allah maka Allah akan menolong kita.
Beliau mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan yakin bahwa Allah pasti
menolong beliau juga.
Sesampainya di rumah, beliau meminta maaf
kepada isterinya karena tidak bisa membelikan susu untuk anak meraka. Kemudian
menceritakan apa yang terjadi sehingga beliau tidak bisa membeli susu karena
uangnya tidak cukup. Istrinya mengerti setelah mendengarkan cerita dari beliau.
Ketika selesai mandi, belum ada satu jam dari
ketika beliau pulang, tiba-tiba ada tetangga yang meminta tolong untuk
diantarkan ke terminal bus dengan sepeda motor tetangga itu. Tetangganya adalah
seorang ibu-ibu. Ibu itu menunggu anaknya pulang kerja untuk mengantar ke
terminal, tapi anaknya belum pulang. Sedangkan bis sudah mau berangkat sebentar
lagi. Kemudian beliau menyanggupi untuk mengantar ibu itu ke terminal. Dan
sesampai di terminal dan ketika hendak pamit pulang, ibu itu meminta untuk
menunggu sebentar dan mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dompetnya sebagi
ucapan teriakasih.
Sungguh beliau sangat bersyukur dan semakin
yakin bahwa ketika menolong dengan atas nama Alah maka akan dibalas oleh Allah
dengan balasan yang lebih baik. Bahkan dengar-dengar, setelah menceritakan
kejadian itu di majelis, beliau mendapat sumbangan dari penceramah tiap
bulannya satu juta rupiah. Karena penceramahnya adalah seorang pengusaha juga
yang selalu menyeru kepada para jamaah untuk selalu bersedekah dengan apa yang
dimiliki.”
Itulah salah satu kisah dari seorang bapak
tukang becak ketika bercerita di majelis ta’lim rutinitas di salah satu masjid
di kota Yogyakarta. Rizki (uang) dalam pandangan ekonomi dan pandangan
keyakinan kepada Allah itu berbeda. Uang lima puluh ribu kalau kita sedekahkan jika
kita pandang dari kacamata ekonomi, maka uang itu akan habis. Tapi, dalam
kacamata keyakinan kita kepada Allah, maka uang itu akan bertambah bisa menjadi
dua kali lipat, tiga kali lipat, dan seterusnya. Inilah rizki yang tidak
disangka-sangka datangnya, min haitsu laa yahtasib.
Kisah ini saya kutip sebagai bahan motivasi agar
kita selalu berbuat baik kepada siapapun, tanpa memandang siapa dia, dan ikhlas
hanya karena mengharap rila Allah. Karena kita yakin Allah akan membalas
kebaikan yang kita berikan itu. Ingat, INTANSHURULLAHA YANSHURKUM.








Insya Allah. Kebaikan sekecil apapun akan dibalas oleh Allah...
BalasHapusMakasi ya Mas atas partisipasinya :)
iya mba, sama-sama :)
HapusmasyaAllah menginspirasi sekali si bapak. salam kenal ya bang :)
BalasHapusiya mba, mari bersama-sama menebar kebaikan :)salam ukhuwah :)
Hapus