Kamis, 03 Desember 2015

INTANSHURULLAHA YANSHURKUM (Jika kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu)



YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU INTANSHURULLAAHA YANSHURKUM WAYUTSABBIT AQDAAMAKUM (QS. Muhammad : 7)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Inilah salah satu ayat yang menggamabarkan bagaimana ketika seseorang menolong orang lain dengan ikhlas karena Allah akan dibalas dengan pertolongan dari Allah. Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, maka Allah akan membelas kebaikan itu dengan kebaikan yang lebih.
Pada suatu pengajian rutin disebuah majelis ta’lim, ketika pembicara memberikan sesi tanya jawab atau curhat, ada sebuah cerita curhatan dari seorang bapak-bapak yang membuat saya dan para jama’ah memanjangkan mata kepadanya dan membuat seluruh jama’ah terdiam memasang telinga. Bapak itu adalah seorang tukang becak yang bercerita tentang kejadian yang dialaminya ketika pulang dari pengajian minggu lalu.

“Ketika beliau pulang dari pengajian, dengan menggenjot becaknya ia bermaksud untuk pergi ke toko kelontong untuk membeli susu untuk anaknya di rumah. Namun, sebelum ia sampai di toko, di sebuah perempatan yang tidak jauh dari toko tujuannya, tepat di depannya terjadi kecelakaan tabrak lari antara mobil pickup menabrak seorang pengendara motor. Orang yang menabrak langsung lari dengan mobil pickupnya. Bapak itu terkaget dan langsung turun dari becaknya meneriaki si penabrak. Dan begitu juga orang-orang di sekitar jalan itu. Tapi sang penabrak sudah jauh kencang dengan mobilnya. Korbannya seorang laki-laki seumuran beliau. Kepala korban sudah berdarah dan dalam keadaan pingsan. Kemudian beliau segera memberhentikan salah satu angkutan umum untuk membawa korban ke rumah sakit. Becaknya ditinggal di tempat kejadian perkara. 

Setelah belaiau selesai membantu korban dari rumah sakit, beliau kembali untuk mengambil becaknya. Ia mengambil uang dikantongnya, hanya ada sisa sepuluh ribu. Sedangkan harga susu yang ingin beliau beli adalah empat puluh lima ribu. Sebelumnya uang yang ada disaku beliau adalah lima puluh ribu, tapi empat puluh ribu telah beliau gunakan untuk biaya transportasi menolong korban kecelakaan tadi. Beliau langsung menaiki becaknya untuk beranjak pulang. Dalam hatinya masih terpikirkan susu untuk anaknya. Tapi beliau ingat ceramah yang disampaikan pada pengajian yang baru saja diikuti tadi, “intanshurullaaha yanshurkum” Ya, sang penceramah menyampaikan juka kita menolong karena Allah maka Allah akan menolong kita. Beliau mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan yakin bahwa Allah pasti menolong beliau juga.

Sesampainya di rumah, beliau meminta maaf kepada isterinya karena tidak bisa membelikan susu untuk anak meraka. Kemudian menceritakan apa yang terjadi sehingga beliau tidak bisa membeli susu karena uangnya tidak cukup. Istrinya mengerti setelah mendengarkan cerita dari beliau.
Ketika selesai mandi, belum ada satu jam dari ketika beliau pulang, tiba-tiba ada tetangga yang meminta tolong untuk diantarkan ke terminal bus dengan sepeda motor tetangga itu. Tetangganya adalah seorang ibu-ibu. Ibu itu menunggu anaknya pulang kerja untuk mengantar ke terminal, tapi anaknya belum pulang. Sedangkan bis sudah mau berangkat sebentar lagi. Kemudian beliau menyanggupi untuk mengantar ibu itu ke terminal. Dan sesampai di terminal dan ketika hendak pamit pulang, ibu itu meminta untuk menunggu sebentar dan mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dompetnya sebagi ucapan teriakasih.

Sungguh beliau sangat bersyukur dan semakin yakin bahwa ketika menolong dengan atas nama Alah maka akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik. Bahkan dengar-dengar, setelah menceritakan kejadian itu di majelis, beliau mendapat sumbangan dari penceramah tiap bulannya satu juta rupiah. Karena penceramahnya adalah seorang pengusaha juga yang selalu menyeru kepada para jamaah untuk selalu bersedekah dengan apa yang dimiliki.”

Itulah salah satu kisah dari seorang bapak tukang becak ketika bercerita di majelis ta’lim rutinitas di salah satu masjid di kota Yogyakarta. Rizki (uang) dalam pandangan ekonomi dan pandangan keyakinan kepada Allah itu berbeda. Uang lima puluh ribu kalau kita sedekahkan jika kita pandang dari kacamata ekonomi, maka uang itu akan habis. Tapi, dalam kacamata keyakinan kita kepada Allah, maka uang itu akan bertambah bisa menjadi dua kali lipat, tiga kali lipat, dan seterusnya. Inilah rizki yang tidak disangka-sangka datangnya, min haitsu laa yahtasib.

Kisah ini saya kutip sebagai bahan motivasi agar kita selalu berbuat baik kepada siapapun, tanpa memandang siapa dia, dan ikhlas hanya karena mengharap rila Allah. Karena kita yakin Allah akan membalas kebaikan yang kita berikan itu. Ingat, INTANSHURULLAHA YANSHURKUM.

Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spreed The Good Story.

4 komentar:

  1. Insya Allah. Kebaikan sekecil apapun akan dibalas oleh Allah...

    Makasi ya Mas atas partisipasinya :)

    BalasHapus
  2. masyaAllah menginspirasi sekali si bapak. salam kenal ya bang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, mari bersama-sama menebar kebaikan :)salam ukhuwah :)

      Hapus