Analytic Jumlah Pengunjung

Buku Adalah Teman Kita

Jadikanlah buku sebagi teman kita sehari-hari. Dengannya, kita akan mendapatkan manfaat yang besar untuk hidup kita.

Membaca adalah Hobi

Jadikan membaca sebagai sebuah hobi. Maka kita akan mendapat pengetahuan-pengetahuan baru setiah hari.

Manifestasikan pikiran dengan menulis

Setelah membaca, akan ada ide-ide yang muncul dalam kognisi. Maka manifestasikanlah ide tersebut dengan sebuah tulisan. Jangan takut untuk menggoreskan pena pada secarik kertas.

Belajar

Selalu Belajar dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Raih Kesuksesan

Jangan pernah takut untuk bermimpi. Teruslah bermimpi dengan belajar dan berusaha. Maka kesuksesan akan menghampiri.

Kamis, 24 Desember 2015

BERGANDENGAN TANGAN, GRAMEDIA DAN DUNIA DIGITAL



Pada era sekarang ini, khususnya abad 20, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) semakin pesat. Setiap tahun selalu bermunculan inovasi-inovasi teknologi baru dengan kecanggihan yang progresif. Inovasi teknologi tidak hanya berada pada ranah hardware saja, namun inovasi terhadap software atau aplikasi pun semakin bermacam-macam. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya konsumen yang menggunakan produk teknologi untuk kebutuhan sehari-hari. Seakan-akan, produk teknologi ini menjadi kebutuhan primer dalam kehidupan. Hingga era sekarang ini disebut dengan dunia digital (digital world).

Semakin pesatnya perkembangan dunia digital, menjadi sasaran utama dalam dunia bisnis, khususnya dalam marketing. Kemudahan informsi dan komunikasi menjadi alasan utama melakukan marketing melalui cara digital.

Gramedia, merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan peluang marketing melalui cara digital, atau sering dikenal dengan online. Gramedia adalah sebuah perusahaan penerbitan buku yang didirikan oleh Jacob Oetama dan Petrus Kanisius Ojong pada 2 Februari 1970. Pada awalnya, Gramedia (dulu Graha Media) hanyalah sebuah gerai atau toko buku kecil di daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat. Dan sekarang Gramedia telah menjadi toko buku dan penerbit buku pertama dan terbesar di Indonesia.
Sudah barang tentu sebelum teknologi informasi dan komunikasi mencapai kemajuannya, Gramedia dalam kegiatan marketingnya menggunakan cara offline, yaitu dengan didirikannya toko-toko buku atau gerai Gramedia. Namun, setelah dunia digital masuk ke Indonesia, Gramedia langsung menggandeng teknologi yang ada sebagai sarana marketin dan informasi. Pada awalnya hanya dengan membuat website sebagai sarana informasi mengenai Gramedia, kemudian berkembang juga ke social media (sosmed) sebagai inforamasi sekaligus promosi dan pemasaran. Gramedia pun bekerjasama dengan toko-toko buku online untuk memasarkan buku terbitannya.
Langkah yang diambil gramedia dengan mengikuti perkembangan teknologi terbukti berhasil. Gramedia semakin besar dan dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia. Hal ini dikarenakan besarnya pengguna media digital khususnya dalam teknologi internet oleh masyarakat Indonesia. Menurut Ketua Umum APJII, Semuel A. Pangerapan, dalam tahun 2014 kemarin, pengguna Internet di Indonesia tercatat sebanyak 88,1 juta. (Sumber: www.detik.com) Melihat hal tersebut, pada tahun 2015 ini kemungkinan besar jumlah pengguna internet di Indonesia akan bertambah. Pada tahun ini, pengguna sosial media aktif di Indonesia mencapai 72 juta. (Sumber: techinasia.com) dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia.
Memanfaatkan perkembangan dunia digital, Gramedia telah memiliki website pribadi www.gramedia.com, juga akun sosial media: twitter resmi @gramediabooks @Gramedia, fanspage facebook Gramedia Store, Instagram Gramedia, dan juga Line Official Gramedia. Melalui website resmi dan akun-akun sosial media tersebut menjadi sarana informasi dan pemasaran buku-buku terbitan Gramedia. Dengan digunakannya media digital online seperti ini, membuat konsumen lebih mudah dalam mencari informasi mengenai buku Gramedia. Dan yang menarik adalah sering diadakannya promo serta event yang dishare melalui sarana website dan sosial media tersebut. Sehingga membuat konsumen lebih senang dan tertarik untuk selalu mengikuti Gramedia.
Walaupun sampai saat ini marketing Gramedia melalui digital online sudah baik, namun akan lebih baik lagi jika Gramedia memaksimalkan promosi buku-bukunya dengan mengangkat publisis devisi khusus sosial media yang benar-benar fasih sosmed, sekaligus mahir dalam perbukuan. Publisis tersebut bisa memberikan kutipan-kutipan atau review singkat mengenai buku-buku terbitan Gramedia, dan memberikan informasi mengenai buku-buku yang akan terbit. Sehingga konsumen bisa lebih dekat dengan Gramedia, juga membuat konsumen lebih tertarik dan penasaran karena kutipan-kutipan singkat tersebut.
Gramedia dan dunia digital seakan-akan bergandengan tangan. Gramedia selalu mengikuti perkembangan inovasi baru dari teknologi digital agar menyesuaikan dengan perkembangan zaman, sekaligus menjadikannya sebagai peluang marketing. Nama besar yang telah disandang oleh Gramedia, berkolaborasi dengan kemajuan dunia digital, membuat toko buku sekaligus penerbit buku ini menjadi lebih besar dan di kenal oleh masyarakt Indonesia. Apalagi dengan MEA (masyarakat ekonomi asean) yang akan dibuka pada akhir tahun ini, jika Gramedia selalu menggandeng perkembangan dunia digital, tidak menutup kemungkinan kalau Gramedia akan tersebar ke negara-negara di luar Indonesia.


Note : Diikutsertakan dalam Gramedia Blogger Competition periode Desember 2015, dengan tema "Bagaimana kamu melihat Gramedia dan dunia Digital?"

Minggu, 13 Desember 2015

Gadis Di Bawah Ayunan




 (Review : Terbang Bersama Gagak)

“Lihat, mayat gadis itu sungguh mengerikan. Ia mati dengan senyum di bawah ayunan,” bisik-bisik para tetangga.

Flash fiction berjudul “Terbang Bersama Gagak” karangan Reffi Seftianti, menceritakan kisah hidup seorang gadis kecil yang dianiaya oleh ibu angkatnya. Rin namanya. Ia dipungut oleh ibu angkatnya dan diperlakukan dengan semena-mena tanpa belas kasihan. Kemudian pada suatu hari terjadi tragedi yang mengenaskan, Rin membunuh ibu angkatnya sendiri, dan dia sendiri juga meninggal karena jatuh dari Ayunan.
Alur cerita pada flash fiction gubahan Reffi ini dibungkus dengan kejadian yang tidak terduga membuat cerita ini menjadi menarik. Seperti pada kejadian saat Rin membunuh ibunya yang tidak dijelaskan dengan cerita sempurna, melainkan dengan penjelasan singkat yang membuat pembaca menjadi kaget.
Sementara para tetangga sedang mengerumuni mayat seorang perempuan yang dipanggil Ibu oleh Rin. Beberapa jam sebelumnya, perempuan itu ditusuk pisau oleh putri angkatnya yang meringkuk kesakitan.”
Sementara penggambaran suasananya bisa dibilang tegas dan mengena. Saya sendiri hanya sekali membaca bisa mengikuti alur cerita dan masuk ke dalam ceritanya. Suasana yang penuh dengan kesedihan, kekerasa, dan ketegangan, digambarkan dengan rapi oleh Reffi.
Namun, tak ada gading yang tak retak, flash fiction karya Reffi ini juga memiliki kekurangan dari kacamata saya sendiri. Ada beberapa kata asing yang tidak dicetak miring, seperti kata “ufo”. Kemudian kata “berkoak-koak” pada “gagak-gagak yang berkumpul di atas rumah Rin berkaok-kaok dengan bahasa yang dimengerti bocah perempuan itu.” Seharusnya dicetak miring. Karena kata tersebut tidak baku pada EYD.
Walaupun penggambaran suasana dan alur cerita bisa dikatakan baik, namun akan lebih baik jika penulisan cerita ini menggunakan teknik “analogi”. Teknik analogi bisa membuat cerita menjadi lebih menarik dari pada hanya menggunakan kalimat-kalimat sederhana.
Secara keseluruhan flash fiction karya Reffi seftianti ini sudah baik, hanya diperlukan teknik-teknik untuk memperindah ceritanya.


Untuk novel online yang diunggah di Storial.co dengan judul (Wisnu Chapter), gaya bahasa yang digunakan sudah seseuai dengan temanya, yaitu mengenai novel remaja. Namun, lagi-lagi masih banyak kata atau bahasa asing yang tidak dicetak miring. Bagi penerbit atau editor koran, hal seperti ini merupakan kesalahan fatal. Dan yang kedua, saya masih menyarankan agar dalam penulisan cerita selanjutnya bisa dibubuhi teknik analogi agar cerita bisa lebih menarik.

Itu beberapa komentar saya mengenai flash fiction dan novel online karangan Reffi Seftianti. Terus berkarya ka Reffi.


Kamis, 03 Desember 2015

INTANSHURULLAHA YANSHURKUM (Jika kamu menolong (agama) Allah, maka Dia akan menolongmu)



YAA AYYUHALLADZIINA AAMANUU INTANSHURULLAAHA YANSHURKUM WAYUTSABBIT AQDAAMAKUM (QS. Muhammad : 7)
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Inilah salah satu ayat yang menggamabarkan bagaimana ketika seseorang menolong orang lain dengan ikhlas karena Allah akan dibalas dengan pertolongan dari Allah. Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, maka Allah akan membelas kebaikan itu dengan kebaikan yang lebih.
Pada suatu pengajian rutin disebuah majelis ta’lim, ketika pembicara memberikan sesi tanya jawab atau curhat, ada sebuah cerita curhatan dari seorang bapak-bapak yang membuat saya dan para jama’ah memanjangkan mata kepadanya dan membuat seluruh jama’ah terdiam memasang telinga. Bapak itu adalah seorang tukang becak yang bercerita tentang kejadian yang dialaminya ketika pulang dari pengajian minggu lalu.

“Ketika beliau pulang dari pengajian, dengan menggenjot becaknya ia bermaksud untuk pergi ke toko kelontong untuk membeli susu untuk anaknya di rumah. Namun, sebelum ia sampai di toko, di sebuah perempatan yang tidak jauh dari toko tujuannya, tepat di depannya terjadi kecelakaan tabrak lari antara mobil pickup menabrak seorang pengendara motor. Orang yang menabrak langsung lari dengan mobil pickupnya. Bapak itu terkaget dan langsung turun dari becaknya meneriaki si penabrak. Dan begitu juga orang-orang di sekitar jalan itu. Tapi sang penabrak sudah jauh kencang dengan mobilnya. Korbannya seorang laki-laki seumuran beliau. Kepala korban sudah berdarah dan dalam keadaan pingsan. Kemudian beliau segera memberhentikan salah satu angkutan umum untuk membawa korban ke rumah sakit. Becaknya ditinggal di tempat kejadian perkara. 

Setelah belaiau selesai membantu korban dari rumah sakit, beliau kembali untuk mengambil becaknya. Ia mengambil uang dikantongnya, hanya ada sisa sepuluh ribu. Sedangkan harga susu yang ingin beliau beli adalah empat puluh lima ribu. Sebelumnya uang yang ada disaku beliau adalah lima puluh ribu, tapi empat puluh ribu telah beliau gunakan untuk biaya transportasi menolong korban kecelakaan tadi. Beliau langsung menaiki becaknya untuk beranjak pulang. Dalam hatinya masih terpikirkan susu untuk anaknya. Tapi beliau ingat ceramah yang disampaikan pada pengajian yang baru saja diikuti tadi, “intanshurullaaha yanshurkum” Ya, sang penceramah menyampaikan juka kita menolong karena Allah maka Allah akan menolong kita. Beliau mengikhlaskan apa yang telah terjadi dan yakin bahwa Allah pasti menolong beliau juga.

Sesampainya di rumah, beliau meminta maaf kepada isterinya karena tidak bisa membelikan susu untuk anak meraka. Kemudian menceritakan apa yang terjadi sehingga beliau tidak bisa membeli susu karena uangnya tidak cukup. Istrinya mengerti setelah mendengarkan cerita dari beliau.
Ketika selesai mandi, belum ada satu jam dari ketika beliau pulang, tiba-tiba ada tetangga yang meminta tolong untuk diantarkan ke terminal bus dengan sepeda motor tetangga itu. Tetangganya adalah seorang ibu-ibu. Ibu itu menunggu anaknya pulang kerja untuk mengantar ke terminal, tapi anaknya belum pulang. Sedangkan bis sudah mau berangkat sebentar lagi. Kemudian beliau menyanggupi untuk mengantar ibu itu ke terminal. Dan sesampai di terminal dan ketika hendak pamit pulang, ibu itu meminta untuk menunggu sebentar dan mengeluarkan uang lima ratus ribu dari dompetnya sebagi ucapan teriakasih.

Sungguh beliau sangat bersyukur dan semakin yakin bahwa ketika menolong dengan atas nama Alah maka akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang lebih baik. Bahkan dengar-dengar, setelah menceritakan kejadian itu di majelis, beliau mendapat sumbangan dari penceramah tiap bulannya satu juta rupiah. Karena penceramahnya adalah seorang pengusaha juga yang selalu menyeru kepada para jamaah untuk selalu bersedekah dengan apa yang dimiliki.”

Itulah salah satu kisah dari seorang bapak tukang becak ketika bercerita di majelis ta’lim rutinitas di salah satu masjid di kota Yogyakarta. Rizki (uang) dalam pandangan ekonomi dan pandangan keyakinan kepada Allah itu berbeda. Uang lima puluh ribu kalau kita sedekahkan jika kita pandang dari kacamata ekonomi, maka uang itu akan habis. Tapi, dalam kacamata keyakinan kita kepada Allah, maka uang itu akan bertambah bisa menjadi dua kali lipat, tiga kali lipat, dan seterusnya. Inilah rizki yang tidak disangka-sangka datangnya, min haitsu laa yahtasib.

Kisah ini saya kutip sebagai bahan motivasi agar kita selalu berbuat baik kepada siapapun, tanpa memandang siapa dia, dan ikhlas hanya karena mengharap rila Allah. Karena kita yakin Allah akan membalas kebaikan yang kita berikan itu. Ingat, INTANSHURULLAHA YANSHURKUM.

Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s Giveaway : Spreed The Good Story.