Minggu, 26 Oktober 2014

QURBAN DALAM PERSPEKTIF PANCASILA



QURBAN DALAM PERSPEKTIF PANCASILA
PAPER

Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah
Pendidikan Pancasila
Dosen Pengampu:
Khoirul Anam, MSI.



SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA


Disusun Oleh :

                                        Ahmad Rosyid Mustaghfirin            (14420107)



JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALIJAGA

2014

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa atas selesainya tugas mata kuliah paper pendidikan pancasila mengenai “Qurban dalam Perspektif Pancasila”. Semoga bermanfaat untuk bidang keilmuan kita. Amin.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik dalam teknis penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang penulis miliki. Serta penulis mengucapkan banyak terima kasih untuk pihak-pihak yang telah membantu. Semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal kepada mereka yang telah memberikan bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Amin Yaa Rabbal ‘Alamiin.
Yogyakarta, 17 Oktober 2014
Penyusun


Ahmad Rosyid Mustaghfirin







DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...........................................................................................        i
Daftar Isi ......................................................................................................        ii
BAB 1 - PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ......................................................................................        1
B.     Rumusan Masalah .................................................................................        3
C.     Tujuan  ..................................................................................................        3
BAB II – PEMBAHASAN
a.       Pengertian Qurban ..................................................................................        4
b.      Hukum Qurban........................................................................................        6
1.    Ibadah Qurban dalam Pandangan
...... Sila Ketuhanan Yang Maha Esa............................................................. .       6
2.... Ibadah Qurban dalam Pandangan Sila Kemanusiaan yang Adil dan
...... Beradab...................................................................................................        8
3.... Ibadah Qurban dalam Pandangan Sila Persatuan Indonesia...................        9
4.... Ibadah Qurban dalam Pandangan Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh
...... Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan..................        11
5.... Ibadah Qurban dalam Pandangan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh
...... Rakyat Indonesia....................................................................................        12
BAB III – PENUTUP
A.    Kesimpulan...........................................................................................        15
B.     Saran.....................................................................................................        15
Daftar Pustaka ............................................................................................        16


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Islam merupakan agama suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk menauhidkan Allah dan sebagai penyempurna akhlak manusia. Akidah islam yang termuat dalam kalimat “laa ilaaha illallah” merupakan penauhidan Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa (satu), hanya Dialah pemilik seluruh alam dan seisinya. Selain akidah, islam juga mengajarkan tentang akhlak, yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.[1] Sifat ini berupa hablun minallah (hubungan antara manusia kepada Allah) dan juga hablun minannas (hubungan manusia kepada sesama).
Akidah serta akhlak dalam islam diatur dengan al-qur’an dan hadits. pada dasarnya, Tuhan (Allah) adalah sebagai pemberi hukum atau aturan yang harus ditaati. Ia tidak memaksakan manusia untuk menaatinya. Manusia diciptakan sebagai pelaku yang bebas, maka manusia dapat memilih untuk menerima atau menolak perintah-perintahnya. Tetapi jakalau manusia mau hidup seperti seharusnya, manusia harus mengikuti hukum-hukum dan aturan Tuhan.[2] Dengan al-qur’an dan hadits inilah hukum dan aturan Allah ditetapkan untuk manusia agar mencapai kebahagiaan.
Pada karya tulis ini yang akan dibahas adalah suatu perbuatan yang termasuk dalam akhlak, yaitu amalan (perbuatan) manusia. Perbuatan manusia bisa berupa perbuatan yang berhubungan dengan Allah, seperti sholat, dan bisa berupa perbuatan yang berhubungan dengan sesama manusia, seperti muamalah. Dan ada juga perbuatan manusia itu mencakup antara keduanya, yaitu hablun minallah dan hablun minannas, salah satu contohnya adalah ibadah qurban. Ibadah qurban inilah yang pada kesempatan kali ini akan dibahas oleh penulis.
Ibadah qurban yang akan dibahas oleh penulis adalah dikaitkan dengan nilai-nilai pancasila. Karena kita adalah muslim yang berdomisili di negara yang berlandaskan pancasila, yaitu negara indonesia. Pancasila yang dirumuskan dan ditetapkan oleh para founding father sebagai dasaar negara sekaligus sebagai paradigma (sudut pandang) dalam bernegara telah mencakup nilai-nilai luhur yang mengandung unsur ketuhanan dan kemanusiaan serta memiliki esensi ajaran agama islam. Kelima sila dalam pancasila bukan terpisah-pisah dan memiliki makna sendiri-sendiri, melainkan memiliki esensi makna yang utuh.[3] Sehingga pancasila memiliki satu tujuan yaitu menciptakan masyarakat yang berkepribadian luhur.
Karena negara kita berdasarkan pancasila, maka ibadah qurban yang setiap tanggal 10 Dzulhijjah dirayakan oleh pemeluk agama islam akan kita bahas dengan nilai-nilai pancasila. Yaitu mulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa, keamanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga terlihat mana pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai dengan nilai-nilai islam yang terkandung dalam pancasila dan mana yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut.


B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka dapat ditarik rumusan masalah, yaitu:
1.      Bagaimana ibadah qurban dalam pandangan sila Ketuhanan Yang Maha Esa?
2.      Bagaimana ibadah qurban dalam pandangan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab?
3.      Bagaimana ibadah qurban dalam pandangan sila Persatuan Indonesia?
4.      Bagaimana ibadah qurban dalam pandangan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan?
5.      Bagaimana ibadah qurban dalam pandangan sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

C.  TUJUAN
Tujuan dari pembahasan permasalahan di atas adalah sebagai berikut:
1.      Memahami ibadah qurban dalam pandangan sila Ketuhanan Yang Maha Esa
2.      Memahami ibadah qurban dalam pandangan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.      Memahami ibadah qurban dalam pandangan sila Persatuan Indonesia
4.      Memahami ibadah qurban dalam pandangan sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5.      Memahami ibadah qurban dalam pandangan sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum masuk ke pembahasan, penulis ingin memaparkan terlebih dahulu tentang pengertian dan hukum qurban.
a.      Pengertian Qurban
Qurban merupakan amalan muslim yang esensinya memiliki dua hubungan sekaligus, yaitu hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia. Qurban sendiri artinya binatang ternak yang disembelih pada harihari Idul Adha untuk menyemarakkan hari raya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.[4] Berqurban merupakan salah satu syiar islam yang disyariatkan berdasarkan dalil al-qur’an, sunnah Rasulullah, dan ijma’ (kesepakatan hukum) kaum muslimin.
Berikut adalah ayat-ayat yang menerangkan tentang qurban,
Èe@|Ásù y7În/tÏ9 öptùU$#ur ÇËÈ  
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah[5]” (Q.S. Al-Kautsar: 2)
ö@è% ¨bÎ) ÎAŸx|¹ Å5Ý¡èSur y$uøtxCur ÎA$yJtBur ¬! Éb>u tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ  
Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”, (Q.S. Al-An’am: 162).
Èe@à6Ï9ur 7p¨Bé& $oYù=yèy_ %Z3|¡YtB (#rãä.õuÏj9 zNó$# «!$# 4n?tã $tB Nßgs%yu .`ÏiB ÏpyJÎgt/ ÉO»yè÷RF{$# 3 ö/ä3ßg»s9Î*sù ×m»s9Î) ÓÏnºur ÿ¼ã&s#sù (#qßJÎ=ór& 3 ÎŽÅe³o0ur tûüÏGÎ6÷ßJø9$# ÇÌÍÈ  
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (Q.S. Al-Hajj: 34).
Makna nusuk dalam ayat di atas adalah menyembelih hewan, demikian penjelasan dari Said bin Jubair. Ada pula yang menyatakan bahwa makna nusuk adalah semua bentuk ibadah, salah satunya adalah menyembelih hewan. Pendapat ini bersifat lebih luas.[6]
Dan dasar dari Sunnahnya adalah sebagai berikut, Dari Uqbah bin ‘Amir , sesungguhnya Nabi membagikan hewan qurban kepada para sahabat nya. Ternyata Uqbah bin ‘Amr mendapat bagian ternak yang masih kecil, belum dewasa (jadzah).Maka ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian berupa jadz-ah?” Rasulullah bersabda, “Berqurbanlah dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena di dalam al-qur’an dan as-sunnah diterangkan tentang qurban, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa qubar disyariatkan untuk muslim. Karena pada dasarnya suatu perintah itu menunjukkan kepada kewajiban selama tidak ada dalil yang membatalkan kewajibannya.[7] Namun, kewajiban qurban disini dibatasi hanya bagi yang mampu.

b.      Hukum Qurban
Tentang hukum Qurban, terdapat perbedaan pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa qurban itu hukumnya sunnah muakkad. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’i, Malik dan Ahmad, serta merupakan pendapat yang masyhur dari Imam Malik dan Imam Ahmad. Pendapat yang lain menyatakan bahwa berqurban itu hukumnya wajib. Ini adalah pendapat madzhab Abu Hanifah dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad. Pendapat ini dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata, “Ini merupakan satu dari dua pendapat dalam mazhab Malik atau bahkan merupakan pendapat yang lebih dikenal pada madzhab Imam Malik.”[8]

Setelah mengetahui pengertian dari qurban serta hukumnya, penulis akan membahas permasalahan yang telah dirumuskan di awal.

1.        Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini memberikan pelajaran bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa sebagai makhluk, maka manusia Indonesia berkewajiban untuk percaya dan beribadah kepada Tuhan sesuai dengan agaa dan kepercayaannya masing-masing.[9] Namun, pada dasarnya sila pertama ini menunjukkan makna islam, karena disitu memuat kata Esa. Hanya ada satu Tuhan yang hak dan wajib disembah, yaitu Allah. sesuai dengan tauhid islam dalam lafal laa ilaaha illallahu yang artinya tiada tuhan kecuali Allah.
Ibadah qurban merupakan wujud implementasi atau realisasi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita yang beragama islam harus merealisasikan keimanan kita dengan perbuatan, salah satunya adalah dengan qurban. Namun ibadah qurban ini hanya diperuntukkan bagi muslim yang sudah mampu. Karena agama islam tidak pernah memberatkan pemelukna. Seperti termaktub dalam ayat berikut ini,
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, (Q.S. Al-Baqarah: 286).

Pada masa sekarang ini, banyak penyalah gunaan ibadah qurban. Tidak jarang orang sekarang berqurbuan tujuannya hanya ingin dipandang wah oleh orang lain, tidak karena ingin mendekatkan diri dan mendapatkan ridlo Allah. Unsur riya inilah yang menodai amalannya, sehingga apa yang telah diperbuat itu hanyalah sia-sia. Dan fenomena ini lebih banyak terjadi di daerah perkotaan, karena persaingan hidup. Sedangkan di daerah pedesaan, fenomena semacam ini sangat minim terjadinya. Karena pada kenytaannya di desa tidak setiap tahun orang berqurban. Mereka akan berqurban jika telah mampu untuk membeli hewan qurban, dan itupun langsung diserahkan (dalam istilah jawa dipasrahkan) kepada pengasuh masjid maupun musholla. Berbeda dengan di daerah perkotaan, orang-orang setiap tahunnya berqurban dan disembelih di rumah masing-masing, bukan diserahkan ke pengurus masjid atau musholla. Kita sendiri tidak tahu apa niat awal dari mereka. Namun, yang orang-orang kota lakukan terlihat seperti persaingan hidup, tidak mau kalah dengan yang lain. Hanya Allah yang mengetahui niatan dari seseorang.
Jika ibadah qurban digunakan sebagai persaingan hidup dan ingin dipandang wah oleh orang lain, tentu ini telah menyalahi sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena nilai dari sila pertama ini adalah sesuatu apapun itu harus digantungkan atas nama Tuhan (Allah) sebagai wujud keimanan kita. Ketika seseorag telah mampu memegang nilai sila pertama ini, maka setiap akan melakukan suatu perbuatan dia akan menata niatnya ikhlas hanya karena Allah. Sehingga perbuatannya tidak menyalahi sila pertama, dan perbuatan tersebut bermanfaat untuk dirinya.

2.      Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab
Sila kemanusiaan yang adil dan beradab berhubungan erat dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kerena sila kedua ini merupakan realisasi dari sila pertama. Ketika kita telah meyakini (iman) kepada suatu kepercayaan atau agama, maka realisasinya adalah berbudi luhur. Dalam sila kedua ini deterangkan dengan keadilan dan berbudi baik.
Sila kedua ini mengandung unsur hablun minannas, yaitu hubungan antar sesama manusia. Dalam melakukan hubungan antara manusia dengan manusia lain, masyarakt, bangsa dan negara mempunyai hak dan kewajiban yang harus ditaatinya. Hak dan kewajiban harus dilakukan secara seimbang sehingga tidak merugika manusa, masyarakat, bangsa dan negara. Karena keadilan mempunyai arti bahwa kepada setiap orang diberikan apa yang telah menjadi haknya, maka hak-hak yang telah dimiliki ole manusia harus dihorati dan diselenggarakan oleh pemerintah maupun manusia yang lain.[10]
Dalam islam, keadilan sila kedua ini dijelaskan dalam ayat berikut,
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. šúüÏBº§qs% ¬! uä!#ypkà­ ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( Ÿwur öNà6¨ZtB̍ôftƒ ãb$t«oYx© BQöqs% #n?tã žwr& (#qä9Ï÷ès? 4 (#qä9Ïôã$# uqèd Ü>tø%r& 3uqø)­G=Ï9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 žcÎ) ©!$# 7ŽÎ6yz $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ÇÑÈ  
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”, (Q.S. Al-Maidah: 8).

Dalam kaitannya dengan ibadah qurban, seseorang yang disebut beradab adalah orang yang sudah mampu melaksanakan qurban kemudian dia mewujudkan kemampuan itu dengan berqurban. Dan sebalinya, jika orang yang sudah mampu berkurban tetapi tidak melaksanakan kurban, maka dia bukanlah orang yang beradab. Beradab disini adalah mematuhi aturan yang telah ditentukan oleh Allah. Dalam aspek keadilan, orang yang telah mampu itu mempunyai kewajiban, dan orang yang tidak mampu itu mempunyai hak. Ketika kewajiban tidak dilaksanakan, maka hak tidak terpenuhi, dan akhirnya tidak ada keadilan.
Fenomena orang yang tidak mau berkurban padahal dirinya sudah mampu, tidak sesuai dengan sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Untuk mempererat hubungan ukhuwah, sudah seaharusnya sila kedua ini dipegang. Antara hak dan kewajiban harus ada tindakan realnya, sehingga keadilan tetap terjaga dengan adab yang baik.


3.        Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Persatuan Indonesia
Pancasila adalah suatu kesatuan yang bertingkat (hierarkhis) dan berbentuk piramidal. Hal ini berart bahwa sila-sila yang di awal melandasi dan menjiwai sila-sila berikutnya, adapun sila-sila Pancasila meupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. konsekuensinya sila Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, demikian pula sila Persatuan Indonesia mendasari dan menjiwai sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarata/perwakiln, dan sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian sila “Persatuan Indonesia” adalah Berketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam ermusyawaratan/perwakilan, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.[11]
Sila ketiga ini bagi kita yang beragama muslim adalah untuk mempererat ukhuwah islamiyah. Berhubungan dengan sila kedua, seseorang yang beradab adalah menjunjung tinggi persatuan, saling menghormati, tidak saling mengejek. Menghormati dan melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak adalah salah satu usaha untuk mengukuhkan persatuan. Yang dijelaskan dalam ayat,
(#qßJÅÁtGôã$#ur È@ö7pt¿2 «!$# $YèÏJy_ Ÿwur (#qè%§xÿs? ÇÊÉÌÈ...  
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”, (Q.S. Ali Imran: 103).

Ibadah qurban merupakan salah satu cara untuk menegakkan persatuan atau ukhuwah islamiyah. Karena di dalamnya mengandung perbuatan sosial yang mulia. Pembagian daging qurban kepada kaum duafa, bisa mempererat tali persaudaraan yang renggang.[12] Persatuan ini juga terlihat dari pengurusan hewan qurban yang dilakukan dengan bersama-sama. Sehingga daging kurban bisa lebih cepat untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Inilah cerminan dari sila Persatuan Indonesia. karena inti atau nilai dari sila ketiga ini adalah membentuk persatuan walaupun berbeda golongan.


4.        Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sesuai dengan sifat persatuan dan kesatuan Pancasila, maka sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, senantiasa merupakan suatu kesatuan dengan sila-sila yang lainnya. Sesuai dengan susunan isi, arti sila-sila Pncasila, maka sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, didasari dan dijiwai oleh ketiga sila yang lainnya yang mendahuluinya, yaitu sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sila Kemanusiaan yang adil dan beradab, dan Persatuan Indonesia.
Berbeda dengan sila pertama dan kedua, sila “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”, juga seperti sila ketiga “Persatuan Indonesia” tidak meliputi hidup manusia secara menyeluruh, akan tetapi hanya menyangkut sebagian lingkungan hidup manusia yaitu hidup bersama di dalam masyarakat dan negara Indonesia. Namun demikian, walaupun sila keempat dan ketiga menyangkut masalah hidup lahir namun karena telah didasari dan dijiwai nilai-nilai kemanusiaan (yang bersifat kerohanian), maka sila keempat inipun juga terkandung di dalamnya nilai-nilai dan asas-asas hidup kerohanian.[13]
Di dalam al-qur’an, musyawarah dijelaskan dalam surat as-Syuuraa ayat 38,
tûïÏ%©!$#ur (#qç/$yftGó$# öNÍkÍh5tÏ9 (#qãB$s%r&ur no4qn=¢Á9$# öNèdãøBr&ur 3uqä© öNæhuZ÷t/ $£JÏBur öNßg»uZø%yu tbqà)ÏÿZムÇÌÑÈ  
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”, (Q.S. As-Syuuraa: 38).
Di sini jelas diperintahkan bahwa untuk memutuskan suat perkara harus berdasarkan musyawarah mufakat. Inilah yang dikandung dari sila keempat. Semua sila Pancasila pada dasarnya adalah mengandung ajaran tentang islam.
Dalam pelaksanaan ibadah qurban, sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan juga menjadi pegangan. Contoh realnya adalah dalam pelaksanaan qurban biasanya dibentuk terlebih dahulu kepanitian yang bertugas mengurus qurban. Sehingga pelaksanaan qurban itu bisa berjalan dengan lancar. Kepanitiaan inilah yang dimaksud dengan permusyawaratan/perwakilan. Intinya, setiap urusan apapun itu harus diselesaikan dengan permusyawaratan/perwakilan.

5.        Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Berdasarkan rumusan persatuan dan kesatuan sila-sila Pancasila, maka sila kelima yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” senantiasa merupakan suatu kesatuan dengan sila-sila yang mendahuluinya. Dan sila kelima ini dijiwai oleh sila-sila sebelumnya. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya sila kelima ini tidak dapat dilaksanakan terpisah dengan sila-sila yang lainnya. Sila kelima adalah merupakan unsur dari Pancasila.
Bila dibandingkan dengan sila-sila yang lainnya maka sila kelima memiliki kekhususan dan keistimewaan dalam perumusannya yaitu didahului dengan kata-kata “...untuk mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Hal ini mengandung arti bahwa keempat sila yang lainnya bertujuan untuk mewujudkan suatu tujuan sebagaimana tercantu dalam sila kelima, atau dengan kata lain sila kelima merupakan suatu tujuan bagi keempat sila lainnya.[14]
Seperti sila kedua, ayat yang menjelaskan tentang keadilan sosial adalah surah al-Maidah ayat 8, yang berbunyi
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. šúüÏBº§qs% ¬! uä!#ypkà­ ÅÝó¡É)ø9$$Î/ ( Ÿwur öNà6¨ZtB̍ôftƒ ãb$t«oYx© BQöqs% #n?tã žwr& (#qä9Ï÷ès? 4 (#qä9Ïôã$# uqèd Ü>tø%r& 3uqø)­G=Ï9 ( (#qà)¨?$#ur ©!$# 4 žcÎ) ©!$# 7ŽÎ6yz $yJÎ/ šcqè=yJ÷ès? ÇÑÈ  
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”, (Q.S. Al-Maidah: 8).

Ibadah qurban pada dasarnya mengandung sila Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Di sini yang digaris bawahi adalah kalimat “Keadilan sosial”. Ibadah qurban sudah pasti memiliki jiwa sosial yang tinggi. Karena disitu ada pembagian qurban kepada kaum duafa. Seperti yang dijelaskan pada hadits riwayat Imam Muslim

“Makanlah daging hewan qurban, simpanlah dan bersedekahlah!” (HR.Muslim).[15]

Perintah untuk bersedekah inilah yang mengandung unsur sosial atau hablun minannas. Daging qurbanyang disedekahkan kepada kaum yang membutuhkan guna memenuhi hak mereka akan mewujudkan keadilan sosial, semuanya sama rata. Jika sila kelima merupakan tujuan dari pancasila, maka qurban pun demikian. Qurban yang pada awalnya didasarai dari keyakinan, diwujudkan dengan sikap nyata, yaitu melaksanakan qurban untuk membentuk ukhuwah islamiyah atau persatuan yang ditangani oleh badan permusyawaratan/perwakilan. Kemudian daging yang disedekahkan itu mengandung unsur sosial yang tinggi, sehingga semua orang bisa merasakan nikmatnya daging. Keadaan sama rata atau sama merasakan inilah yang dimaksud dengan keadilan sosial dalam qurban.


BAB III
PENUTUP

A.     KESIMPULAN
Ibadah qurban merupakan ibadah yang mengandung unsur akidah dan sekaligus akhlak. Maksudnya adalah ibadah qurban ditujukan untuk mendekatakan diri kepada Allah melalui jalan menyedekahkan daging qurban. Sehingga terjalin hubungan hablun minallah dan hablun minannas dalam satu amalan.
Ibadah qurban sangat erat kaitannya dengan Pancasila dan sekaligus berpegang keapada nilai-nilai dalam sila-sila Pancasila. Ibadah qurban lahir karena keimanan atau kepercayaan kepada sila Ketuhan Yang Maha Esa. Kemudian keimanan itu direalisasikan melalui mengurbankan hewan qurban yang dalam hal ini mengandung sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ibadah qurban dapat mempererat tali persatuan karena unsur sosialnya, hal ini mengandung nilai sila Persatuan Indonesia. Dalam pelaksanaannya, qurban diwakilkan kepada badan permusyawaratan/perwakilan yang dalam hal ini adalah paniti qurban. Kepanitian ini mencerminkan nilai sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Dan tujuan dari ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan mewujudkan keadilan sosial dari penyedekahan daging kurban. Seperti tujuan dalam Pancasila yaitu untuk mewujudkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

B.      SARAN
Dalam penulisan makalah ini sudah pasti di dalamnya terdapat kekurangan. Oleh karena itu Demi mengembangkan karya tulis ini, penulis sangat membutuhkan kritik beserta saran yang membangun. Agar penulis selalu termotivasi untuk melanjutkan telaahnya terhadap bidang keilmuan.


DAFTAR PUSTAKA

Anam, Khoirul, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (untuk perguruan tinggi), Yogyakarta: Inti Media, 2011.
Ilyas, Yunahar, Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2012.
Kaelan, dan Achmad Zubaidi, Pendidikan Kewarganegaraan (untuk perguruan tinggi), Yogyakarta: Paradigma, 2010.
Kaelan, Filsafat Pancasila, Yogyakarta: Paradigma, 2002.
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi SAW, Yogyakarta: Media Hidayah, 2003.
Qur’an Word 2007.
Rachels, James, Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius, 2013.
Zamroni, Anang, dan Suratno, Fikih, Jakarta: Kementerian Agama RI,____.




[1] H. Yanuar Ilyas, Kuliah Akhlaq, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2012), hlm. 2.
[2][2] Jamaes Rachels, Filsafat Moral, (Yogyakarta: Kansius, 2013), hlm. 100.
[3] H. Kaelan, dan Achmad Zubaidi, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Paradigma, 2010), Pancasila sebagai dasar filsafat negara, hlm. 25.
[4] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi SAW, (Yogyakarta: Media Hidayah, 2003), hlm. 13.
[5] Yang dimaksud berkurban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.

[6] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi SAW, hlm. 14.
[7][7] Anang Zamroni, dan Suratno, Fikih (Jakarta: Kementerian Agama RI), hlm. 48.
[8] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi SAW, hlm. 16-17.
[9] Khoirul Anam, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Inti Media, 2011), hlm. 43.
[10] Khoirul Anam, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi, hlm.45-46.
[11] Kaelan, Filsafat Pancasila, hlm. 179.
[12] Kaum duafa adalah kaum yang lemah, artinya orang yang membutuhkan.
[13] Kaelan, Filsafat Pancasila, hlm. 199.
[14] Kaelan, Filsafat Pancasila, hlm. 218.
[15] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Tata Cara Qurban Tuntunan Nabi SAW, hlm. 66.

0 komentar:

Posting Komentar