Minggu, 26 Oktober 2014

POTRET NILAI PANCASILA DALAM MASYARAKAT




TUGAS
MATA KULIAH PENDIDIKAN PANCASILA

Dewasa ini dengan seiring berkembangya zaman, kepribadian masyarakat indonesia mulai terkikis. Salah satunya karena budaya barat yang masuk dengan tanpa adanya penyaringan (filter). Kebudayaan barat yang begitu mudah masuk melalui berbagai media sedikit demi sedikit telah merasuk ke dalam diri masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki kepribadian luhur, ramah, dan berjiwa sosial kini telah berulbah menjadi individualistik serta kapitalis. Kini masyarakat hanya memikirkan dirinya sendiri. Apapun yang dilakukan harus menguntungkan diri sendiri serta menghasilkan kekayaan. Perilaku yang seperti itu adalah mencederai kepribadian kita, yaitu pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila kini telah dikesampingkan. Padahal budaya kita adalah budaya pancasila yang telah dirumuskan oleh para founding gather untuk membentuk negara Indonesia ini menjadi negara yang sejahtera dengan kepribadian masyarakat yang luhur.
Sebagai contoh, ketika di jalan raya kadang kita menjumpai orang yang mengendarai motor dengan ugal-ugalan tanpa memikirkan orang lain. Mungkin dalam pikirannya jalan raya itu adalah miliknya sendiri. Dan ketika lampu merah menyala dengan seenaknya menyelonong hingga membahayakan orang lain. Perilaku seperti ini mencederai sila kedua dari pancasila, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Dalam sila ini manusia dituntut agar memiliki kepribadian (adab) yang baik, sehingga dirinya akan memiliki kehormatan. Serta memiliki rasa keadilan kepada sesama, sehingga terjalin hubungan sosial yang tinggi antar masyarakat. Ketika sila kedua ini dijalankan, maka akan timbul rasa saling menghormati dan terbentuk kepribadian yang luhur.
Contoh lainnya adalah perilaku pedagang. Sekarang ini para pedagangpun sudah banyak tingkahnya untuk meraih keuntungan. Salah satunya dengan mengurangi timbangan, sehingga bisa menghasilkan keuntungan yang besar untuk dirinya. Ataupun perilakunya, ketika ada seorang pembeli yang notabenenya berpenghasilan rendah (miskin) datang, kemudian dibelakangnya datang pula seorang pembeli lain yang memiliki penghasilan tinggi (kaya), maka yang akan diperhatikan dan dilayani terlebih dahulu adalah pembeli yang berpenghasilan tinggi itu. Padahal yang datang terlebih dahulu adalah pembeli yang berpenghasilan rendah. Bahkan pembeli yang miskin tadi akan tak dihiraukan oleh penjual tadi untuk sesaat. Dan ketika orang yang kaya tadi sudah selesai, maka yang miskin baru akan dilayani. Itupun dengan cara yang berbeda pula. Sekarang, siapa yang bertahta dan ber-uang akan diperhatikan. Selain mencederai nilai sila kedua, perilaku seperti itu juga mencederai sila kelima, yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”. Keadilan sosial harus selalu dilakukan dimanapun dan kepada siapapun. Tak ada kelas-kelas seperti kaya dan miskin. Pada dasarnya semua adalah sama. Maka dengan sila kelima inilah keadilan sosial kita diharapkan selalu ada pada diri kita untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera.
Kedua contoh di atas adalah akibat dari telah dilalaikannya pancasila. Sehingga menimbulkan perilaku yang menyimpang serta merugikan orang lain. Maka sudah seharusnya pendidikan pancasila diajarkan sejak dini. Sehingga sila-sila dalam pancasila akan tertancap membentuk kepribadian yang baik. Dan tercipta suatu masyarakat yang sejahtera dengan kepribadian luhur sperti yang diinginkan oleh para pendiri bangsa terdahulu.


0 komentar:

Posting Komentar