Minggu, 26 Oktober 2014

PENGERTIAN AYAT, SURAT, DAN PROSES PENETAPANNYA



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Al Qur’an adalah firman Allah sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya terdapat ayat dan surat tentang berbagai aspek kehidupan manusia. Sistematika penulisan mushaf Al Qur’an yang terdiri dari ayat-ayat dan surat mengandung keunikan tesendiri. Dilihat dari aspek kondisi kehidupan manusia saat itu, terlebih di lingkungan tempat diturunkannya Al Qur’an sistematika mushaf Al Qur’an bisa dikatakan adalah suatu hal yang sangat menarik. Untuk itu memang sepantasnya hal ini untuk dikaji lebih mendalam.
B.     Dasar Permasaliahan
1.      Apakah pengertian ayat?
2.      Apakah pengertian surat?
3.      Bagaimanakah proses penetapan ayat dan surat Al Qur’an?
C.    Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui pengertian ayat dan surat.
2.      Untuk mengetahui bagaimana sistem dan proses penetapan ayat dan surat.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Ayat
      Para ulama memiliki beberapa pendapat tentang definisi ayat Al Qur’an. Misalnya, menurut Syaikh Al Ja’bari : “Ayat ialah Al Qur’an (wahyu) yang tersusun dari kalimat-kalimat yang sempurna walaupun secara implisit (taqdiri), berawal dan berakhir serta menyatu di dalam surat.” Sedangkan menurut syaikh Al Zamakhsyari, ayat Al Qur’an hanya dapat diketahui melalui petunjuk dan tuntunan Allah dan tidak ada peranan logika di dalamnya. Sebagai contoh beliau menyebutkan ayat fawatihussuwar (ayat pembuka surat, seperti: الم، المص  dan الر ) sebagian dalam Al Qur’an adalah merupakan satu ayat penuh dan di bagian yang lain tidak satu ayat penuh.
      Berdasarkan perbedaan beberapa macam definisi tersebut, maka dapat dirumuskan pengertian ayat, adalah sejumlah huruf yang tersusun hingga membentuk “kata” atau “kalimat” yang diketahui lewat bimbingan dan petunjuk Allah.

B.     Pengertian Surat
Secara bahasa kata “surat” berasal dari kata tunggal "سُوْرَةٌ"; jamaknya "سُوَرٌ". Para ahli bahasa Arab berbeda pendapat tentang asal-usul kata surat. Abu Ubaidah menyatakan bahwa kata surat adalah isim tunggal "سًوْرَةُ الْبِنَاءِ" dari isim jamak "سُوْرٌ" (pagar bangunan). Sedangkan Al Azhari menyangkal pendapat tersebut dengan mengatakan, bahwa kata surat memiliki isim jamak "سُوَرٌ" seperti dalam Surat Hud ayat 13 "فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ". Sedangkan Al Qutaybi berpendapat bahwa kata surat berasal dari kata "سُؤْرٌ" yang berarti “sisa sesuatu” seperti air yang tidak habis diminum; jika dihubungkan dengan Al Qur’an, maka surat merupakan bagian dari Al Qur’an.
Secara istilah dalam ilmu tafsir, “term ‘surat’ dimaksudkan untuk menyebut sekelompok ayat yang berdiri sendiri, mempunyai awal dan akhir serta batas-batas tertentu”.

C.    Proses Penetapan Ayat dan Surat
Tertib Ayat
Proses penetapan ayat Al Qur’an adalah secara tauqifi dengan artian penetapannya beradasarkan wahyu dari Allah dan petunjuk dari Rasulullah Shallalahu’alaihiwasallam. Pendapat tersebut merupakan ijma’ ulama. Imam Ash Shuyuti mengatakan, “Ijma’ dan nash-nash yang serupa menegaskan, tertib ayat-ayat itu adalah tauqifi, tanpa diragukan lagi”. Malaikat Jibril menurunkan Al Qur’an terkadang dalam bentuk satu surat utuh, seperti surat-surat pendek (al Mufashshal) namun terkadang diturunkan dalam pengalan-penggalan ayat. Dalam hal itu Rasulullah bersabda:
ضعوا هذه السورة في الموضع الذي يذكر فيه كذا و كذا
“Letakkan surat ini di tempat yang di dalamnya tersebut ini dan ini.”
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Aku tengah duduk di samping Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian sabdanya, ‘Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku ayat ini di tempat ini dari surat ini, ‘Sesunggunya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta bersedekah kepada kaum kerabat’ (An Nahl: 90).”
Ketika pengumpulan Mushaf Utsmani terdapat banyak ayat-ayat yang telah dimansukh oleh ayat yang lain, namun Utsman bin Affan tidak menghilangkan suatu ayat dengan ayat yang lain.
Ibnu Zubair berkata, “Aku mengatakan kepada Utsman bahwa ayat; ‘dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dengan meninggalkan istri-istri…’ (Al Baqarah: 234) telah dimansukh oleh ayat yang lain. Tetapi, mengapa Anda menuliskannya atau membiarkannya dituliskan? Ia menjawab, ‘Wahai putra saudaraku, aku tidak mengubah sesuatupun dari tempatnya”.
Dan masih banyak hadits maupun atsar yang mendukung bahwa tertib ayat Al Qur’an ditetapsakn secara tauqifi.
Tertib Surat
Mengenai tertib surat dalam Al-Qur’an, terdapat perbedaan pendapat dari para ulama. Beberapa pendapat tersebut antara lain:
a.       Tertib suarat itu tauqifi dan ditangani langsung oleh Nabi sebagaimana diberitahukan Malaikat Jibril kepadanya atas perintah Allah. Sehingga dapat diatarik sebuah pengertian bahwa Al-Qur’an pada masa Nabi telah tersusun surat-suratnya secara tertib sebagaimana tertib ayat-ayatnya, seperti yang ada di dalam mushaf Utsmani yang tak ada seorang sahabat pun menentangnya. Kelompok ini berdalil bahwa Rasulullah telah membaca beberapa surat secara tertib di dalam shalatnya. Seperti riwayat Ibnu Abi Syaibah, bahwa Nab pernah membaa beberapa surat mufashshal (surat-surat pendek) dalam satu rakaat. Serta riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud, katanya, “Surat Bani Israil, Al-Kahfi, Maryam, Thaha dan Al-Anbiya’ termasuk yang diturunkan di Makkah dan yang pertama-tama akau pelajari.”
Ibnul Hashshar mengatakan, “Tertib surat dan letak ayat-ayat pada tempatnya masing-masing itu berdasarkan wahyu. Rasulullah mengatakan, “Letakkanlah ayat ini di tempat ini.” Hal tersebut diperkuat oleh riwayat yang mutawatir, bacaan Rasulullah, dan ijma’ para sahabat untuk meletakkan atau menyusunnya sepert dalam mushaf.”

b.      Pendapat yang kedua menerangkan bahwa tertib surat itu berdasarkan ijtihad para sahabat, sebab ternyata ada perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka.
Pendapat ini didukung oleh beberapa mushaf sahabat yang memiliki urutan surat berbeda-beda. Misalnya, mushaf Ali yang disusun berdasarkan tertib nuzul (sebab turun), yakni dimulai dengan Iqra’, kra sahaemudian Al-Muddatstsir, lalu Nun, Al-Qalam, kemudian Al-Muzammil, dan seterusnya hingga akhir surat Makkiyah dan Madaniyah. Sedangkan dalam mushaf Ibnu Mas’ud, yang pertama ditulis adalah surat Al-Baqarah, kemudian An-Nisaa’, lalu Ali Imran. Dan dalam mushaf Ubay, yang pertama ditulis adalah Al-Fatihah, Al-Baqarah, An-Nisaa’, lalu Ali Imran dan seterusnya.

c.       Pendapat yang ketiga beranggapan bahwa sebagian surat itu tertibnya bersifat tauqifi dan sebagian lainnya berdasarkan ijtihad para sahabat. Hal ini karena terdapat dalil yang menunjukkan tertib sebagian surat pada masa Nabi. Misalnya, keterangan yang menunjukkan tertib as-sab’u ath-thiwal, al-hwamim dan al-mufashshal pada masa hidup Rasulullah.
Walaupun terdapat beberapa perbedaan pendapat tentang tertib surat, namun pendapat yang paling masyhur adalah seperti pendapat yang pertama, yaitu menyebutkan bahwa tertib surat-surat itu bersifat tauqifi. Seperti kata Al-Kirmani dalam Al-Burhan, “Tertib surat seperti kita kenal sekarang ini sudah menjadi ketentuan Allah dalam Lauh Mahfuzh. Menurut tertib ini pula Nabi membacakan di hadapan Jibril setiap tahun. Demikin juga pada akhir hayatnya beliau membacakan di hadapan Jibril, menurut tertib ini sebanyak dua kali.”

As-Suyuthi mendukung pendapat Al-Baihaqi yang mengatakan, “Surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an pada masa Nabi, telah ersusun menurut tertib ini kecuali Al-Anfal dan Bara’ah, sesuai dengan hadits Utsman.” Sehingga jelaslah bahwa tertib surat dalam Al-Qur’an itu bersifat tauqifi yang sudah ditentukan oleh Allah. Seperti halnya tertib ayat yang juga sudah ditentukan Allah di Lauh Mahfuzh.



BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah dipaparkan dalam pembahasan di depan, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud ayat adalah sejumlah huruf yang tersusun hingga membentuk “kata” atau “kalimat” yang diketahui lewat bimbingan dan petunjuk Allah. Ayat-ayat itu sendiri terkumpul dalam kelompok-kelompok yang disebut surat. Sehingga dapat dipahami bahwa surat adalah sekelompok ayat yang berdiri sendiri, mempunyai awal dan akhir serta batas-batas tertentu.
Susunan ayat atau surat (tartib) dalam al-qur’an memiliki perbedaan pendapat tentang penetapannya. Namun, pendapat yang terkuat adalah bahwa tartib ayat serta surat dalam al-qur’an itu bersifat tauqifi, yaitu telah ditentukan oleh Allah dan diajarkan kepada Nabi melalui malaikat Jibril. Sehingga menguatkan bahwa al-qur’an benar-benar dijaga oleh Allah.

B.     Saran
Alangkah baiknya umat Islam mempelajari materi tentang ayat dan surat ini. Pengetahuan ini sangat diperlukan untuk menunjang dalam pemahaman Al Qur’an. Tentunya setelah mempelajari ilmu ini hendaknya juga mempelajarai cabang-cabang ilmu Al Qur’an yang lain agar lebih mengokohkan keyakinan kita dalam beragama Islam.



DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaththan, Manna’. Pengantar Studi Al Qur’an (terjemah). 2007. Jakarta: Pustaka Kautsar.

Baidan, Nashrudin. Wawasan Baru Ilmu Tafsir. 2011. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

0 komentar:

Posting Komentar