Analytic Jumlah Pengunjung

Buku Adalah Teman Kita

Jadikanlah buku sebagi teman kita sehari-hari. Dengannya, kita akan mendapatkan manfaat yang besar untuk hidup kita.

Membaca adalah Hobi

Jadikan membaca sebagai sebuah hobi. Maka kita akan mendapat pengetahuan-pengetahuan baru setiah hari.

Manifestasikan pikiran dengan menulis

Setelah membaca, akan ada ide-ide yang muncul dalam kognisi. Maka manifestasikanlah ide tersebut dengan sebuah tulisan. Jangan takut untuk menggoreskan pena pada secarik kertas.

Belajar

Selalu Belajar dengan siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Raih Kesuksesan

Jangan pernah takut untuk bermimpi. Teruslah bermimpi dengan belajar dan berusaha. Maka kesuksesan akan menghampiri.

Senin, 21 Januari 2019

Ote Naus

Ote Naus
Oleh: Rosyid H. Dimas

Aku sudah tahu kalau kekalahan akan menimpa kubu kita sebelum kau mengasah parangmu untuk yang ketiga kalinya. Namun, aku tidak menyangka bahwa ternyata darah yang ada dalam telur itu adalah darahmu. Ternyata kaulah yang mewujud dari ritual ote naus itu dan menjadi korban dari peperangan ini. Dan ternyata kepalamulah yang akan dijadikan persembahan kepada usif Amanuban sebagai bukti atas kemenangan mereka.
Sehari sebelum kau mengasah parangmu itu, tepatnya sebelum peperangan dimulai, aku berhasil menyelinap ke dalam Benteng None. Saat itu para meo sedang bermusyawarah di lopo. Dengan ilmu yang kau ajarkan, aku mendekat ke lopo dengan menyamarkan suara dan gerak-gerikku. Aku sembunyi di balik atap rumbia ume kbubu yang hampir menyentuh tanah. Dari tempat persembunyianku itu, aku bisa mendengar pembicaraan mereka yang sedang menentukan dari arah manakah serangan kubu kita akan dimulai. Atas pengamatan yang mereka lakukan di pene, aku mendengar mereka bersepakat bahwa kita akan menyerang dari arah selatan, yaitu satu-satunya jalan untuk bisa menerobos benteng. Aku membenarkan kesepakatan mereka karena itulah jalan yang telah kita ambil, dan kita tidak mungkin bisa menyerbu benteng dari timur, barat, atau utara yang medannya berupa tebing bebatuan yang curam.
Setelah melakukan kesepakatan, menyiapakan siasat dan strategi perang, mereka turun dari lopo untuk melaksanakan ritual ote naus. Aku tidak perlu keluar dari tempat persembunyianku karena dari sana semua yang mereka laukakan teramat jelas di mataku meski beberapa helai julur atap rumbia menghalangi pandanganku. Di sebuah lopo yang ukurannya lebih kecil, seorang meo ditunjuk untuk memulai ritual. Aku melihat meo itu mengambil sebatang tongkat kayu, menempelkan salah satu ujungnya pada tiang lopo, kemudian mendepanya dengan kedua tangan. Ketika ujung kuku ibu jari meo itu menyentuh tiang lopo, mendadak perasaan was-was mulai menderaku. Seorang meo lain kemudian memberikan sebutir telur ayam dan sebatang arang kepada meo itu. Itulah ritual kedua yang akan mereka lakukan. Ia—meo yang telah mendepa tongkat—kemudian menggambar empat penjuru mata angin menyerupai anak panah pada cangkang telur itu. Dan setelah membaca doa-doa, telur itu lalu dipecahkan. Aku melihat noda darah keluar bersama putih dan kuning telur. Darah itu membuatku bergidik dan untuk beberapa saat tubuhku bergeming. Saat itulah aku tahu kalau kekalahan akan menimpa kita dan seorang atau lebih dari kubu kita akan menjadi bahan persembahan.
Setelah tersadar dari kegemingan, aku lalu menghambur keluar dari balik atap ume kbubu. Sial, aku hampir saja tertangkap karena ketakutan yang mencekam membuatku kehilangan konsentrasi untuk mempertahankan ilmuku. Seseorang melemparkan sebilah parang ke arahku, tapi aku berhasil mengelak. Aku pergi dari benteng None dengan langkah seribu.
Sepanjang perjalanan aku terus memikirkan hasil ramalan yang telah mereka lakukan. Ujung kuku yang menyentuh tiang lopo dan noda darah yang keluar dari cangkang telur adalah pertanda buruk bagi kita. Kecemasan telah merambah di sekujur tubuhku hingga membuatku beberapa kali tersandung akar pohon dan bebatuan. Setelah tiba di persembunyian kita, kau menyambutku dengan senyum yang ramah. Kau memelukku dan beberapa kali menepuk-nepuk punggungku. Kau juga bertanya darimana aku dan mengapa kulitku terluka, tapi tidak kujawab sama sekali.
Saat itu kau sedang mengasah parangmu untuk yang ketiga kali. Kau ingin memastikan bahwa parang itu benar-benar tajam untuk memenggal leher mereka. Pada parangmu yang beberapa kali kaugesek dengan batu itu, aku seolah-olah melihat darah mengalir di matanya. Aku tidak tahu darah siapakah itu, tapi yang jelas bahwa itu adalah darah suku kita. Dan suara berdenging itu, yang timbul dari gesekan batu dan parangmu, aku mendengarnya seperti teriakan kekalahan yang memilukan. Mendadak tubuhku bergetar. Bayangan noda darah saat ritual ote naus itu terus menghantuiku dan membuatku tak mampu berbicara sama sekali. Aku tiba-tiba bisu.
Malam hari saat udara mendinginkan bebatuan, kau kembali memimpin kita untuk memeprsiapkan semuannya—strategi dan peralatan perang. Sementara kalian sibuk mengambil ini dan itu, aku hanya duduk di dekat perapian. Tiba-tiba aku membayangkan sebuah para-para yang di atasnya sebuah atau beberapa kepala manusia dipanggang dan cairan menetes-netes darinya. Sebenarnya, kau sudah tahu perihal ote naus yang mereka miliki. Namun, bagimu ramalan hanyalah ramalan. Sedangkan strategi yang baik selalu menjanjikan kemenangan. Kau sangat percaya dengan siasat perang yang pernah kaupelajari dari seorang serdadu Portugis itu hingga membuatmu lupa pada kepercayaan kita sendiri. Apalah artinya siasat dan strategi jika leluhur tidak berpihak kepada kita sama sekali? Aku ingin mengingatkanmu akan itu, tapi suaraku telah diambil oleh leluhur. Dan aku menyadari bahwa takdir memang harus berjalan sebagaimana yang telah digariskan.
Kita berangkat menuju Benteng None saat matahari mulai menghangatkan dedaunan. Tombak, parang, dan senapan telah siap menjalankan takdir dari leluhur. Sebagai pemimpin, kau berada di garis terdepan. Kau melangkah dengan penuh kepercayaan bahwa kemenangan akan dengan mudah kita tuai. Sementara itu, di belakangmu, aku berjalan dengan kaki yang gamang. Kita menelusuri pohon-pohon yang rindang dan bebatuan yang akan menjadi saksi atas peperangan ini. Kicau burung-burung yang bertengger di pucuk-pucuk pohon seperti suara genderang yang mengiringi perjalanan kita. Dan di sebuah tempat yang agak sepi dari julang pepohonan—aku mengira kalau tempat itu pastilah medan yang bertahun-tahun telah mereka gunakan untuk menyambut lawan—para meo telah menyambut dengan parang dan tombak yang siap membuncahkan darah kita.
Tidak menunggu waktu lama, kau lalu berseru untuk mulai menyerang. Kita melakukan tugas masing-masing sesuai siasat yang telah kautetapkan. Para meo itu, karena mereka tahu bahwa kita akan kalah, mereka menyambut serangan kita tanpa gentar sedikit pun. Parang saling beradu dan menimbulkan suara dentang yang menggema. Mata tombak berkilat-kilat mencari kulit untuk ditikam. Dan peluru-peluru senapan tumbuk dari kubu kita beterbangan mencari tubuh lawan.
Ada yang ganjil saat itu. Meski para penembak kita telah membidik sasaran dengan tepat, tapi tidak satu pun peluru yang mengenai mereka. Peluru-peluru itu seolah-olah kehilangan arah bidik dan terbang seperti burung buta. Kalian—termasuk kau—pasti berpikir itu karena bidikan yang meleset, tapi tidak bagiku. Berbeda dengan kau dan yang lain, aku berpikir bahwa itu adalah suatu keajaiban. Ada suatu kekuatan—yang tidak akan pernah bisa dicerna oleh kepala kita—yang telah membelokkan peluru-peluru itu dan menyelematkan para meo itu. Meski demikian, kita tetap berhasil membuat mereka tersudut dan mundur ke benteng.
Kau girang. Meski belum ada korban sama sekali, kau berpikir bahwa kemenangan sudah begitu dekat di matamu. Kita hanya perlu membunuh satu meo di antara mereka untuk mewujudkan kemenangan kubu kita. Ya, cukup satu korban. Tidak perlu sepuluh atau bahkan seratus. Karena itulah aturan perang yang sudah ditentukan leluhur untuk semua suku di tanah kita. Perang, meski akan menimbulkan korban, sejatinya harus tetap memiliki aturan untuk melindungi umat manusia.
Para meo terus mempertahankan benteng. Tak ada ketakutan sama sekali di mata mereka. Ya, pasti itu karena ote naus yang telah mereka lakukan. Bagaimanapun leluhur pasti akan membantu mereka. Dan benar saja. Saat kau berhasil menjatuhkan seorang meo lawanmu dan hendak menebasnya dengan parang, sebuah peluru meluncur dari bol nu’ut dan mengenai dadamu. Kau terjatuh. Meo itu kemudian bangkit dan hendak balik menebasmu. Saat ia akan mengayunkan parang, aku meloncat dan berusaha melindungimu. Namun, ia berhasil menendang perutku hingga aku terjatuh di bebatuan yang ditumbuhi kaktus berduri. Aku terhuyung dan kepalaku membentur batu. Sedangkan, entah berapa duri kaktus telah menembus dagingku. Meo itu akhirnya berhasil menetakkan parangnya di lehermu. Aku melihat kau berkelejatan menahan nyeri yang tak terperi. Saat melihat darahmu memburai tak tentu arah, saat itulah aku teringat kepada noda darah yang keluar bersama kuning dan putih telur pada ritual ote naus yang mereka lakukan. Ternyata darah yang kulihat saat itu, saat aku menyelinap ke Benteng None, adalah darahmu.
Sebab kau telah tumbang dan menjadi korban, peperangan pun berhenti. Kubu kita akhirnya mundur dengan bayangan kemenangan yang gugur. Para meo kemudian membawa kita berdua. Sebelum itu, mereka telah memenggal kepalamu terlebih dahulu untuk dijadikan persembahan.
Dan begitulah, aku sudah tahu kalau kekalahan akan menimpa kubu kita sebelum kau mengasah parangmu untuk yang ketiga kalinya. Di dalam benteng, para meo merayakan kemenangannya dengan menari mengelilingi kepalamu yang terpanggang di atas para-para sembari mengalunkan tne. Saat kepalamu telah kering, mereka akan membawanya kepada usif Amanabuan sebagai persembahan dan bukti kemenangan. Andai saja kuku jempol meo saat mendepa tongkat itu tidak menyentuh tiang pancongan lopo, andai saja tidak ada noda darah yang keluar dari telur itu, tentu kemenangan akan berpihak kepada kita dan kepalamu tidak akan dijadikan persembahan.
Sementara itu, di dalam kurungan kayu, sembari menghidu bau kepalamu yang terpanggang, aku hanya bisa meringkuk. Dan saat menyadari bahwa suaraku telah kembali, aku lalu menggonggong dan menyalak dengan lantang untuk mengenangmu.(*)

Keterangan:
Ote Naus = Ritual peramalan hasil perang
Usif = Raja
Meo = Prajurit perang
Lopo = Rumah bulat NTT yang agak terbuka, biasa dijadikan tempat musyawarah
Ume Kbubu = Rumah bulat NTT yang tertutup sebagai tempat tidur dan memasak
Pene =Tempat untuk melakukan pengamatan
Bol nu’ut = Lubang kecil pada pagar batu untuk meletakan senjata untuk menembak musuh
Tne = Sebuah syair

Minggu, 30 September 2018

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Hallo teman. Ngomong-ngomong, apa kamu ingin ganti smartphone baru di tahun 2018 ini? Jika iya, berarti kita samaan. Jangan-jangan, kita jodoh ya wkwk. Saya punya rekomendasi samartphone yang keren buat kamu nih. Ini smartphone idaman saya di tahun 2018 ini. Namanya si Nova. Bukan Nova anaknya Pak RT ya, hehe. Nama lengkapnya Huawei Nova 3i. Si Nova 3i ini adalah smartphone flagship dari brand Huawei. Tahu, kan, brand Huawei? Yup. Huawei adalah brand smartphone yang di tahun 2018 ini menempati ranking ke-2 dari Global Smartphone Brand. Keren, kan? So pasti, dong!

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Nah, kenapa saya mengidamkan dan merokomendasikan buat kamu Huawei Nova 3i, karena smartphone ini harganya terjangkau. Cuma 4 Jutaan gaes. Eits, tapi jangan salah. Meski si Nova 3i ini harganya terbilang murah karena berada di kelas mid-end, tapi smartphone ini memiliki kualitas premium. Kapan lagi punya smartphone murah dengan kualitas premium, kan?

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Nova 3i ini dibekali kamera yang keren, lho. 4 kamera dengan teknologi AI sekaligus. Keren, kan? Sebagai pencinta fotografi, 4 kamera denga AI ini cukup membuat saya mupeng. Memang, kualitas kamera selalu menjadi syarat  utama saya saat memilih smartphone.

Smartphone ini juga dibekali ruang penyimpanan sebesar 128 GB. Besar? Besar sekali, dong. Selain itu Nova 3i ini dibekali teknologi GPU Turbo yang cocok buat saya yang suka main game. Kamu suka main game juga, kan? Makanya saya merekomendasikan smartphone ini buat kamu.

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Nah, yang istimewa, Huawei Nova 3i ini memiliki desain yang WOW banget. Kamu pernah melihat langit saat di ujung senja dan di pangkal maghrib? Bagaimana warnanya? Yup, warna langit saat seperti itu adalah biru keungu-unguan. Nah, warna si Nova 3i ini didesain dengan warna seperti itu. Nama kerennya irish purpule, gradasi antara biru dan ungu. Anak senja pasti demen sama warnanya. Hehe

Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa menyimak 5 alasan keistimewaan Huawei Nova 3i yang saya buat di bawah ini.

1. Desain Premium yang Elegan

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Sebelumnya sudah saya kasih bocoran, kan, desain dari Huawei Nova 3i ini. Tubuh si Nova ini didesain dengan tampilan yang mewah. Bagian belakang smartphone ini terbuat dari bahan seperti kaca yang bisa membuat warna menjadi lebih cerah dan berkilau. Gradasi biru dan ungu dari warna irish purple semakin terlihat mencolok dan menawan. Di bagian tengah, tubuh si Nova 3i ini dibingkai dengan bahan metal yang membuatnya semakin elegan. Ukuran layarnya yang sebesar 6,3 inch membuat nyaman saat dipegang dan disimpan di dalam saku. Kamu tidak suka dengan warna irish purpule? Tenang, Huawei Nova 3i ini juga tersedia dalam warna Black dan Caramo yang elegan.

2. 4 Kamera ASPH dengan AI

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Kamu suka berkreasi dengan foto kamera? Nah, Huawei Nova 3i jagonya kalau soal foto. Tidak kalah sama kamera DSLR pokoknya. Si Nova 3i ini dibekali 4 kamera sekaligus, lho. 16 MP + 2 MP di bagaian belakang dan 24 MP + 2 MP di bagian depan. Apa sih gunanya 4 kamera? Kamu suka kan dengan foto yang background-nya blur-blur gitu? Nah salah satu fungsi 4 kamera ini adalah untuk menciptakan foto bokeh yang baik. Dua kamera dengan ukuran 2 MP lah yang bertugas menghasilkan background blur itu.

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Dan Perlu kamu ketahui, lensa yang digunakan si Nova 3i ini tidak main-main. Lensanya berjenis ASPH (aspheric lens). Aspheric lens ini adalah jenis lensa yang memiliki ketebalan lebih tipis dari lensa biasa. Kelebihan dari lensa ini bisa menyaring sinar-sinar tertentu yang tidak bisa disaring oleh lensa biasa. Sehingga dapat mengurangi distorsi, fokus yang lebih tajam, dan hasil yang jernih.

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Kamera Huawei Nova 3i juga dibekali dengan teknologi AI. Apa sih AI itu? AI atau artificial intelligence adalah sebuah teknologi kecerdasan buatan yang dapat membuat kamera mampu berinteraksi lebih baik dengan objek. Teknologi AI ini mampu menghasilkan foto dengan warna yang lebih baik, indah, dan menawan.Teknologi AI ini sangat cocok buat kamu yang hobi selfie lho. Dual kamera berukuran 24 MP dan 2 MP di bagian depan si Nova ini bisa mempercantik fotomu dengan algoritme yang canggih agar hasilnya tetap alami dan menarik. Foto selfie-mu juga lebih detail dan tajam.

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Selain itu, dengan teknologi AI ini, si Nova 3i bisa melakukan unlock device dengan scan wajah. Berkat fitur 360 Degree Free Unlock, scan wajah kamu bisa dilakukan dari mana saja. Depan? samping? Bisa. Asal jangan dari belakang ya hehe.

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Oh, iya, Huawei Nova 3i ini juga cocok buat kamu yang suka dengan vidiografi. Smartphone ini memiliki fitur kamera dengan mode 16X Super Slow Motion. Dengan fitur ini, kamu bisa merekam vidio ala-ala film Matrix dengan 480 frame per detik. Kece, kan?

3. Storage Sebesar 128 GB

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Kamu pernah kesel saat mau install aplikasi, mendownload file, atau saat mengambil foto atau vidio ternyata memori penyimpanan smartphonemu penuh? Saya sering mengalami yang begini ini. Akhirnya saya harus bersih-bersih dan mindahin berkas ke laptop dah. Dengan Huawei Nova 3i ini, kamu tidak akan lagi mengalami yang namanya kehabisan memori. Smartphone ini dibekali dengan ruang penyimpanan internal sebesar 128 GB. Widiih, besar ga tuh? Besar banget lah. Si Nova 3i ini menjadi satu-satunya smartphone dengan storage terbesar di kelasnya, lho. Nah, kamu mau install aplikasi apa aja, bakal dijabani sama si Nova 3i ini.

4. Imersif Gaming dengan GPU Turbo

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Zaman sekarang siapa sih yang ngga main game? Yup, bermain game memang menjadi sarana hiburan sederhana di sela-sela kepenatan. Tapi, kalau saat main game kemudian smartphone tersendat dan lag, pasti bisa buat kamu frustrasi.  Tapi tenang. Huawei Nova 3i akan mengobati frustrasimu kok. Si Nova 3i ini dibekali teknologi GPU Turbo yang membuat game tetap lancar dan imersif. Dipadukan dengan RAM sebesar 4GB dan CPU Kirin 710, kamu tidak akan menemui lag saat bermain game. Ditambah teknologi AI yang terpasang di smartphone ini, game dengan grafis yang besar sekalipun akan tetap berjalan dengan mulus. Semua game bisa dilibas oleh si Nova 3i ini.

5. Sempurna

Huawei Nova 3i Smartphone Idaman 2018

Yup. Smartphone seharga 4 jutaan dengan keunggulan-keunggulan seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, menjadikan Huawei Nova 3i ini layak untuk disebut sempurna. Memang tidak dipungkiri, semua hal pasti ada kekurangannya. Tapi si Nova 3i ini hampir tidak memiliki kekurangan. Gimana, bingung? Saya juga wkwk. Oleh karena itu, tidak ada kata lain yang lebih tepat selain "sempurna" untuk smartphone ini.

Nah, itulah 5 alasan mengapa saya mengidamkan dan merekomendasikan Huawei Nova 3i buat kamu di tahun 2018 ini. Gimana, sudah mupeng seperti saya? Nah, makanya yuk segera beli si Nova 3i ini. Hidupmu bisa tambah sempurna, lho hehe

Oom Boy Punya Gawe Berhadiah Huawei

Sabtu, 29 September 2018

Huawei Nova 3i Si Cantik yang Pintar dan Elegan



“Sekarang, menjadi penulis itu mudah. Kita dibantu oleh samrtphone yang kian hari semakin canggih. Bagi seorang penulis, smartphone bukanlah sekadar mainan. Kita bisa menggunakannya untuk menulis ide yang tiba-tiba muncul, atau mem-foto peristiwa menarik yang mendadak kita temui, bahkan kita bisa sekalian menulis di smartphone juga. Maka tidak ada kata “menjadi penulis itu susah” di zaman sekarang ini.”
 
Setidaknya begitulah apa yang dikatakan penyair kesayangan saya Joko Pinurbo atau yang lebih akrab disapa Jokpin pada suatu pertemuan kelas puisi. Dan saya meng-amini-nya. Ya, sebagai orang yang bergelut di bidang menulis, smartphone memang selalu menjadi teman setelah buku (buku bacaan). Smartphone sangat membantu dalam dua hal yang dikatakan Jokpin, yaitu menulis ide yang tiba-tiba muncul dan mem-foto peristiwa yang mendadak kita temui.

Mungkin beberapa orang akan bilang begini, “menulis ide, kan, bisa di buku catatan?” Ya, betul sekali. Beberapa orang mungkin senang membawa buku catatan dan bolpoin ke mana pun ia pergi. Namun, hal itu kurang berlaku bagi saya. Buku catatan saya lebih sering tergeletak di kos ketimbang rebahan di dalam tas. Bukan apa-apa, penyakit lupa dan buru-buru sayalah yang menyebabkan hal itu terjadi. Sebelum saya terbiasa menuliskan ide di samrtphone, saya malah pernah menulis ide di selembar kertas tisu saat sedang bersendiri dengan kopi di sebuah kedai. Saat itu saya kembali lupa membawa buku catatan. Nahasnya, sesampainya di kos, kertas tisu sudah hancur-lebur. Dan ide itu hilang tak tahu rimbanya. Karena sering mengalami kejadian-kejadian semacam itu, saya akhirnya memulai membiasakan diri menulis ide di smartphone.

Samartphone juga membantu saya membingkai peristiwa-peristiwa yang menarik ke dalam sebuah foto. Misalnya, saat sedang di kedai kopi, saya pernah mendapati seseorang perempuan duduk di sebuah meja di bagian pojok. Saat itu saya melihat sebuah duka membentang di wajahya. Lalu terbetik dalam kepala saya untuk memfoto perempuan itu. Akhirnya, dari foto itu saya bisa melahirkan sebuah cerita pendek dengan cerita perempuan patah hati. Saya mengikuti saran yang diberikan Jokpin.
 
Kata Jokpin “fotolah apa saja yang menarik. Kamu bisa mendapat ide menulis dari foto itu. Satu foto bisa menjadi satu puisi atau cerita pendek. Minimal, kamu bisa mendapat ide baru saat mengalami ‘writer’s block”
Oleh karena itu, saya memilih Huawei Nova 3i menjadi Smartphone Idaman 2018 untuk menemani keseharian saya. Dalam hal apapun, saya setidaknya berpedoman pada falsafah jawa “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” (kepribadian seseorang dipandang baik berdasarkan ucapannya, sedangkan raga seseorang dipandang baik berdasarkan pakaian/penampilannya).


Saya memilih #HuaweiNova3i_ID ini sebagai smartphone idaman juga karena falsafah ini. Hal pertama yang membuat saya kepincut adalah desain smartphone ini yang cantik, dengan warna irish purple yang menimbulkan warna biru berpadu warna ungu yang elegan. Ini sebuah ajining raga saka busana. Sedangkan ajining diri saka lati saya menafsirkannya ke dalam hal-hal bersifat intrinsik seperti kamera dengan AI, ram dan ruang penyimpanan yang besar, dan GPU Turbo untuk gaming.
 
Jika boleh dijabarkan, inilah 4 kelebihan Hawei Nova 3i sehingga layak menemani aktivitas harian saya.
 
1. Desain Irish Purpule yang Elegan
Huawei Nova 3i bisa dikatakan smartphone dengan desain paling cantik untuk kelasnya. Desainnya yang premium dengan warna irish purple menimbulkan gradasi warna ungu yang elegan. Saat terkena cahaya, smartphone ini akan berkilau-kilauan. Bagi saya ini smartphone yang estetik sekali. Warna yang diusung Huawei ini mengingatkan saya pada waktu di antara senja dan maghrib, di mana langit terlihat biru keunguan. Selain warna irish purpule, Huawei Nova 3i ini juga tersedia dalam warna hitam yang menawan. Smartphone ini sungguh cantik, menawan, dan elegan.
 
2. Kamera ASPH dengan Teknologi Pintar AI
Selain menulis, saya memang suka dengan fotografi. Bahkan kualitas kamera terkadang menjadi alasan utama saya untuk memilih smartphone. Huawei Nova 3i ini memiliki 4 kamera dengan lensa ASPH (aspheric lens). 16 MP + 2 MP di bagian belakang, dan 24 MP + 2 MP di bagian depan. Aspheric lens sendiri merupakan jenis lensa yang memiliki ketebalan lebih tipis dari lensa biasa. Kelebihan lensa ini bisa menyaring sinar-sinar tertentu yang tidak bisa disaring oleh lensa biasa. Hasilnya adalah untuk mengurangi distorsi yang tidak perlu di saat kita melihat sesuatu, fokus yang lebih tajam, dan layar/hasil yang lebih jernih.

Selain itu, keempat kamera Huawei Nova 3i ini juga dilengkapi dengan AI (artificial intelligence). Teknologi AI ini adalah kecerdasan buatan yang mampu memperbaiki gambar yang ditangkap oleh kamera. Sehingga foto yang dihasilkan akan jauh lebih baik dan menghasilkan warna lebih menarik. Bagi saya pencinta fotografi, tentu teknologi ini sangat bermanfaat sekali. Hasil foto akan menarik tanpa diedit sekalipun. Dan saya bisa menuliskan puisi ataupun cerita dari foto-foto yang saya ambil.

3.  Storage Besar 128 GB
 
Tidak dipungkiri lagi, ruang penyimpanan internal smartphone yang besar akan membuat pengguna lebih nyaman. Huawei Nova 3i ini dilengkapi dengan ruang penyimpanan internal sebesar 128 GB. Di kelas smartphone mid-end, storage yang besar ini menjadi kelebihan tersendiri bagi Nova 3i. Dengan ruang penyimpanan yang besar ini sangat membantu saya yang sering menyimpan file-file berukuran besar. Seperti koleksi foto, musik, film, dan e-book. Kehabisan ruang saat mendownload e-book di grup pencinta buku tidak akan saya alami lagi dengan storage 128 GB yang disediakan Huawei Nova 3i ini.
 
4. GPU Turbo yang Gahar untuk Gaming

Sekarang ini banyak game-game pc yang diadaptasi ke dalam android. Hampir rata-rata game yang paling banyak dimainkan saat ini memiliki grafis yang tinggi sehingga terkadang membuat smartphone manjadi lag. Tapi, dengan Huawei Nova 3i ini, semua game bisa dilibas. Teknologi GPU Turbo yang dipadukan dengan procesor Kirin 710 dan RAM 4 GB yang disematkan ke dalam smartphone ini mampu membuat pengalaman bermain game menjadi nyaman dan mulus. GPU Turbo ini menjadikan Huawei Nova 3i semakin gahar untuk gaming. Teknologi ini sangat membantu sekali bagi saya yang sesekali bermain game moba di waktu luang di sela-sela membaca dan menulis.

Itulah beberapa alasan mengapa Huawei Nova 3i layak menemani saya baik dalam urusan menulis, fotografi, maupun gaming. Huawei Nova 3i ini bisa dikatakan sempurna untuk smartphone kelas mid-end dan layak dipinang sebagai #ChooseTheBest. Dan karena itu, smartphone ini juga akan membuat aktivitas harian saya menjadi sempurna.

Huawei Nova 3i Blog Competition by Koh Huang

Senin, 02 Januari 2017

Curhatan Tentang Ibu




   Sebelum membaca tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa apa yang akan anda baca nanti bukanlah hibah atau saudara-saudaranya yang bisa menghapus pahala anda seperti bara api yang membakar kayu. Ini murni curhatan atau kegalauan-kegalauan saya. Jadi, harap duduk manis, ambil napas dalam-dalam tiga kali agar tubuh anda rileks dan jangan lupa sediakan secangkir kopi.

   Perihal ibu, sejujurnya dan sesungguhnya kehidupan saya dengan Ibu segalanya berjalan dengan biasa sebagaimana adanya. Tidak ada hal-hal istimewa seperti beberapa orang yang bahkan bisa romantis dengan ibunya. Ngobrol pun paling kalau ada perlu apa dan apa. Tidak ada sesi curhat ataupun semacamnya. Tapi bukan berarti ibu saya tidak memiliki kasih sayang kepada saya, atau sebaliknya, saya tidak memiliki kasih sayang kepada ibu saya. Bukankah kasih sayang tidak melulu dimanifestasikan dengan hal-hal romantis? Bukankah kasih sayang dapat diwujudkan dengan hal-hal sederhana? Seperti menuruti kata-kata ibu atau mengantarnya ke pasar, misalnya.

   Jika diminta bercerita tentang ibu, saya langsung teringat juga kepada mertua ibu (nenek saya). Anda penah dengar mitos—entah ini mitos atau memang kenyataan—bahwa hubungan mertua dengan memantu selalu tidak baik. Dan ini terjadi pada ibu saya dan mertuanya. (Sebelum saya lanjutkan curhatan ini, saya ingin mengingatkan lagi kalau ini bukan hibah, ini murni curhatan saya.) Ibu seringkali marah-marah kepada mertuanya. Kemarahan ini bukan tanpa dasar, tapi memang tabiat mertua ibu (nenk saya) itu tidak seperti orang tua sebagaimana umumnya. Bayangkan, ada nenek-nenek yang suka ngegosip, membicarakan tetangga, suka membicarakan hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Awalnya ibu saya menasehati dengan baik—walaupun memang dengan nada agak tinggi. Namun, mertuanya itu (nenek saya) selalu saja membantah, dan yang menjengkelkan, ketika sudah terbukti ia (nenek saya) salah, justru nyelemor (mengalihkan pembicaraan). Tentu setelah itu ibu marah. Pertengkaran ini hampir saya temui setiap hari. Dan ternyata, selain ibu saya, kerabat-kerabat pun sering menasehati (atau marah?) nenk saya itu. Dan saya, selalu berdoa, semoga istri saya dan ibu saya nanti hubungannya baik. (Saya selalu ngeri dan takut jika istri saya nanti memiliki hubungan semacam Tom & Jerry dengan ibu) Nauzubillah....

   Lalu bagaimana hubungan saya dengan ibu? Seperti yang sudah saya katakan di awal, bahwa kehidupan kami—kehidupan di keluarga kami—berjalan apa adanya. Bahkan hingga saya ke Jogja untuk kuliah, semuanya pun berjalan sebagaimana biasa. Seperti bertukar kabar, mislanya, saya jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menanyakan kabar kepada ibu saya atau juga kepada orang-orang rumah. Begitupun ibu. Paling-paling ada telepon juga pas ibu menanyakan “Uangmu masih?”. Dan saya, menelpon atau sms juga pas minta uang kiriman. Dari persoalan uang ini, saya sadar betul bahwa ibu adalah orang penyayang kepada anak-anaknya. Meski belum jatuh tempo tanggal kiriman, ibu biasanya akan mengirim sms menanyakan keuangan saya. Dan kalau saya bilang sudah habis, besoknya, ibu sudah mentransfer uang jarah bulanan itu, tanpa saya meminta. Oleh karena itu, saya kadang timbul rasa sungkan sendiri. Bahkan, jika di tengah bulan uang saya sudah habis, saya lebih memilih untuk hutang kepada teman ketimbang bilang kepada ibu untuk minta kiriman. Kecuali kalau memang saya sedang memiliki kebutuhan yang mendesak dan penting.

   Selain soal peruangan, manifestasi lain kasih sayang ibu kepada saya adalah melalui bekal. Ya, bekal. Ini terjadi ketika saya pulang dan hendak kembali ke Jogja. Ibu selalu menanyakan kepada saya mau bawa bekala apa saja. Saya biasanya hanya bilang bawa beras beberapa kilo saja untuk berhemat makan. Tapi, tanpa sengetahuan saya, ibu ternyata juga membawakan bermacam-macam makanan ringan dan kopi. Saya tidak tahu kapan ibu membeli semua itu. Saya hanya tahu ketika pagi sebelum saya berangkat, saya diminta mengikat kardus dengna tali rafia, dan ternyata di dalamnya ada bermacam-macam bekal. Ketika saya bilang, “Kok banyak bu?”. Kata ibu, “Ndak papa, buat ngemil di kos sama teman-temanmu.” Dan akhirnya, bekal ini seperti menjadi syarat dan rutinitas acap kali saya hendak kembali ke Jogja. Sekali lagi, kasih sayang seorang ibu, hadir melalui hal-hal sederhana.

   Sebenarnya masih banyak curhatan tentang ibu yang ingin saya tulis. Tapi, barangkali malah akan menimbulkan kebosanan kepada anda. Dan baiklah, saya cukupkan saja sekian curhatan—sekali lagi, bukan hibah—tentang ibu saya. Dan sebelum tulisna ini berakhir, mari berdoa bersama semoga ibu kita diberikan rizki dan nikmat (baik jasmaniah maupun ruhaniah) oleh Tuhan yang kasih dan penyayang. Aamin.


NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka memeriahkan ulang tahun akbaryoga.com sekaligus untuk memperingati hari ibu.